IKNPOS.ID – Momen Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah tinggal menghitung hari, dan dinamika pasar pangan di Kalimantan Barat (Kalbar) tengah menjadi sorotan tajam. Bagi Anda yang berencana menyusun menu hidangan hari raya, ada kabar baik sekaligus peringatan penting yang patut disimak agar tidak terjebak dalam kelangkaan. Pemerintah daerah memastikan ketersediaan protein hewani strategis seperti daging ayam ras dan telur dalam kondisi aman, namun ancaman defisit masih membayangi komoditas sapi potong.
Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalbar memproyeksikan neraca produksi tahunan yang menunjukkan tren positif untuk unggas. Namun, lonjakan konsumsi yang dipicu oleh euforia mudik dan implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuntut kewaspadaan ekstra dari para konsumen maupun pelaku usaha di lapangan.
Surplus Belasan Ribu Ton: Daging Ayam dan Telur Dipastikan Aman
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Ignatius I.K., memberikan jaminan bahwa stok hewan ternak beserta produk turunannya untuk wilayah Kalimantan Barat mencukupi kebutuhan domestik. Berdasarkan data teknis, produksi daging ayam ras lokal tidak hanya sekadar memenuhi permintaan, tetapi justru mengalami kelebihan pasokan yang signifikan.
“Jika mengacu pada proyeksi neraca produksi tahunan, daging ayam ras masih mencukupi kebutuhan masyarakat. Bahkan terdapat surplus lebih dari 12 ribu ton dalam setahun,” tutur Ignatius di Pontianak, Rabu (11/3/2026). Surplus yang masif ini menjadi bantalan yang kuat untuk meredam guncangan harga di tingkat pedagang eceran.
Setali tiga uang dengan daging ayam, ketersediaan telur ayam ras juga diprediksi stabil. Produksi daerah diperkirakan menyentuh angka 22.779 ton per tahun. Volume produksi ini dinilai sangat memadai untuk menopang kebutuhan harian warga Kalbar, meskipun terdapat peningkatan permintaan protein secara nasional.
Warning! Sapi Potong Lokal Hanya Mampu Penuhi 60 Persen Kebutuhan
Di tengah optimisme sektor unggas, narasi berbeda datang dari komoditas sapi potong. Ignatius mengakui bahwa kemandirian pangan untuk daging sapi masih menjadi tantangan intelektual dan teknis yang berat bagi pemerintah daerah. Hingga saat ini, peternak lokal hanya mampu menyuplai sebagian besar dari total kebutuhan konsumsi di Kalimantan Barat.