IKNPOS.ID – Debut di kelas utama tidak pernah mudah, bahkan bagi pembalap dengan reputasi besar. Toprak Razgatlioglu merasakan langsung kerasnya MotoGP saat menjalani sprint pertamanya di Buriram, Thailand.
Start dari baris ketujuh, Toprak tidak dibebani target poin tinggi. Fokus utamanya adalah memahami karakter motor dan menjaga konsistensi sepanjang 13 lap. Sebagai juara dunia World Superbike tiga kali, ekspektasi terhadapnya cukup besar. Namun MotoGP adalah dunia yang berbeda, baik dari sisi teknis maupun intensitas balapan.
Sejak lampu start padam, atmosfer kompetisi langsung terasa. Tikungan pertama menjadi momen krusial. Toprak mengaku sempat merasa ragu ketika melihat pembalap di depannya, Jack Miller, melakukan pengereman lebih awal. Ia menggunakan rem karbon dengan penuh kehati-hatian karena belum sepenuhnya yakin suhu rem sudah ideal.
“Saya hampir terjatuh di tikungan pertama. Saya merasakan ban depan mengunci dua kali dan melebar,” ungkapnya setelah balapan.
Momen tersebut menjadi sinyal awal bahwa proses adaptasinya belum sepenuhnya tuntas.
Engine Brake Jadi Tantangan Besar
Masalah utama muncul di tikungan terakhir Sirkuit Buriram. Toprak merasakan adanya perbedaan respons engine brake sejak lap pertama. Padahal, menurutnya, peta mesin yang digunakan adalah setelan standar yang sama seperti biasanya.
“Saya merasakan ada perbedaan pada engine brake di tikungan terakhir sejak awal. Di lap pertama saja saya hampir jatuh di sana,” katanya.
Dalam MotoGP modern, engine braking memainkan peran vital dalam menjaga stabilitas saat deselerasi. Ketika pembalap menutup throttle, sistem ini membantu mengontrol putaran roda belakang agar tetap selaras dengan laju roda depan. Jika responsnya berubah sedikit saja, keseimbangan motor bisa terganggu.
Toprak mencoba beradaptasi sepanjang balapan. Ia memilih mengikuti ritme Miller dan mempelajari titik pengereman serta akselerasi di setiap sektor. Beberapa lap berjalan relatif stabil. Ia bahkan mulai memahami area di mana dirinya lebih kuat dibanding pembalap lain.
Namun ketika tiga lap terakhir dimulai, ia mencoba mendekat untuk membuka peluang menyerang. Ia mengerem sedikit lebih dalam di tikungan terakhir, berharap bisa memangkas jarak.
“Semuanya terasa sempurna sampai saya mulai memiringkan motor. Saya merasakan kuncian pertama. Saat saya miringkan lebih dalam, bagian belakang kembali terlalu cepat dan saya kehilangan bagian depan,” jelasnya.
Motor tergelincir, dan Toprak pun terjatuh ke area gravel. Ia sempat melanjutkan balapan dan akhirnya finis di posisi ke-20, tepat di depan Michele Pirro.







