Catatan Dahlan Iskan

Tarim Bayi

Share
Share


Tidak hanya satu bayi. Beberapa. Diantrekan. Dipangku. Didoakan. Diolesi.

Juga beberapa anak balita. Dipegang kepalanya. Didoakan.

Ada lagi yang menyerahkan botol air yang sudah dibuka tutupnya. Habib Umar meniupkan doa ke dalam botol itu. Antre.

Lalu para mahasiswa. Menghadap. Membawa serban. Didoakan. Serban itu pun diletakkan di bahunya.

Empat mahasiswa Indonesia berdiri. Berjajar. Membaca beberapa ayat Quran di luar kepala. Koor. Itu berarti mereka minta dinilai apakah bacaannya sudah benar. Mereka lulus.

Semua itu berlangsung selama dua jam. Tiap hari Jumat begitu. Di jam seperti itu.

Raut wajah Habib Umar selalu berseri. Selalu agak tersenyum. Rambut jenggotnya diberi pewarna cokelat muda mengilap.

Saya perhatikan raut wajah beliau. Saya seperti sering bertemu wajah itu. Saya membayangkan seperti siapa ya? Lalu saya ingat: seperti bintang film Slamet Rahardjo! Pemain teater terkemuka Indonesia kakaknya Eros Jarot iru. Wajah dan ekspresi Habib Umar mirip Slamet Rahardjo.

Habib Umar sendiri sudah sering ke Indonesia. Alumnus Darul Mustofa di Indonesia mengundangnya. Dua kali ke Kalsel. Ke Jakarta. Ke Surabaya. Ke Kaltim. Ke Lombok. Ke Palembang.

Banyak alumnus yang sudah jadi ulama besar di Indonesia.

Pukul 15.00 acara selesai. Lembaran plastik tipis dihampar di lantai. Di depan saya. Dihampar sampai ke depannya Habib Umar. Masih ke sana lagi.

Lalu nampan-nampan berisi nasi briyani ditaruh di atas gelaran plastik. Potongan-potongan daging kambing teronggok di atas nasi. Satu nampan untuk dua atau tiga orang.

Sebelum makan petugas mengedarkan teko berisi air. Untuk cuci tangan. Air dikucurkan ke baskom. Cuci tangan dari air pancuran teko itu.

Begitulah. Yang memanjang hanya yang di depan. Selebihnya membuat lingkaran-lingkaran kecil. Satu nampan dilingkari empat orang. Makan gratis. Jumat berkah.

Usai magrib saya diundang makan malam gratis lagi. Yakni di satu rumah di kampung Aididdi dalam kota Tarim. Saya dijemput pakai Alphard berdebu. Sepanjang jalan menuju rumah itu pun berdebu.

Share
Related Articles
Tarim Tanah
Catatan Dahlan Iskan

Tarim Tanah

Oleh: Dahlan Iskan "Dari mana Anda tahu saya sedang di Tarim?" "Hari...

Catatan Dahlan Iskan

Berpisah Istri

Oleh: Dahlan Iskan Saya berpisah lagi dengan istri: di Makkah. Hampir selalu...

Imron Djatmika
Catatan Dahlan Iskan

Imron Djatmika

Oleh: Dahlan Iskan Inilah dua orang yang tahu kapan harus berhenti jadi...

FDI Purbaya
Catatan Dahlan Iskan

FDI Purbaya

Oleh: Dahlan Iskan Konkret saja. Saya mencoba inventarisasikan apa saja yang jadi...