Konsumen dan Inflasi: Efek Berantai yang Tak Terhindarkan
Dalam sistem perdagangan modern, tarif jarang berhenti pada importir. Penelitian dari The Budget Lab at Yale menunjukkan bahwa sebagian besar biaya tarif sebelumnya telah dialihkan kepada konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi. Jika pola ini berlanjut, tarif 15 persen berpotensi menambah tekanan inflasi di Amerika Serikat.
Kendaraan, produk elektronik, dan sejumlah bahan pangan impor bisa mengalami kenaikan harga. Dalam situasi ekonomi yang masih sensitif terhadap inflasi, kenaikan biaya ini berisiko mengurangi daya beli rumah tangga.
Selain itu, ketidakpastian mendorong sebagian eksportir untuk mempertimbangkan pengalihan pasar. Jika perusahaan memilih memprioritaskan Eropa atau kawasan Indo-Pasifik, konsumen Amerika dapat menghadapi pilihan produk yang lebih terbatas.
Bayang-Bayang Gugatan dan Potensi Refund
Putusan Mahkamah Agung membuka peluang bagi perusahaan untuk menuntut pengembalian tarif yang telah dibayarkan sebelumnya. Nilainya diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar. Namun proses hukum kemungkinan panjang dan kompleks, dengan pertanyaan mengenai siapa yang berhak menerima refund serta bagaimana mekanismenya.
Sejumlah analis memperkirakan pemerintah dapat menggunakan instrumen hukum lain untuk meminimalkan kewajiban pengembalian dana dalam skala besar. Situasi ini memperpanjang ketidakpastian dan menciptakan risiko hukum tambahan bagi perusahaan.
Ancaman Tarif Sektoral pada 2026
Kekhawatiran tidak berhenti pada tarif global. Pemerintahan sebelumnya telah menggunakan Pasal 232 dari Trade Expansion Act 1962 untuk memberlakukan tarif sektoral pada baja, aluminium, dan kendaraan. Investigasi kini mencakup farmasi, semikonduktor, mineral kritis, dan industri pesawat.
Jika tarif sektoral tersebut diperluas pada 2026, dampaknya bisa meluas ke rantai pasok global. Industri yang bergantung pada komponen impor akan menghadapi biaya produksi lebih tinggi, yang pada akhirnya kembali membebani konsumen.







