Abdul Khaliq memaparkan dua skenario besar yang mungkin terjadi sore ini. Skenario pertama, jika hilal menembus kriteria MABIMS, maka puasa Ramadhan 2026 akan dimulai pada Rabu, 18 Februari 2026. Namun, jika langit berkata lain, puasa baru akan dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026.
“Jika sore ini hilal terlihat di atas kriteria tersebut, maka awal puasa jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Namun jika tidak, maka Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), sehingga puasa dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026,” jelasnya secara mendetail.
Libatkan BMKG dan MUI: Pantauan Serentak di 133 Titik
Proses rukyatul hilal di IKN bukan sekadar ritual biasa, melainkan operasi sains dan agama yang terintegrasi. Kemenag menggandeng BMKG untuk melakukan perhitungan astronomis yang sangat akurat. Selain itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga hadir sebagai saksi ahli untuk memvalidasi penampakan bulan sabit baru tersebut.
Hasil dari pantauan di IKN dan lokasi lain di Kaltim—seperti menara Masjid Baitul Muttaqien Islamic Center Samarinda—akan langsung diterbangkan datanya ke Jakarta. Data ini akan menjadi bahan pertimbangan utama dalam Sidang Isbat nasional untuk menentukan keputusan final pemerintah.
Pesan Toleransi Jelang Ramadhan di Ibu Kota Baru
Menjelang datangnya bulan penuh berkah, Abdul Khaliq mengingatkan warga Kalimantan Timur dan Indonesia secara umum untuk mengedepankan sikap saling menghargai. Apapun hasil Sidang Isbat nanti, semangat persatuan harus tetap menjadi yang utama dalam menyambut Ramadhan di era baru IKN.
“Kami mengimbau masyarakat Kaltim untuk saling menghormati, khususnya dalam menjaga kekhusyukan ibadah puasa,” tutupnya dengan penuh harapan.
Pastikan Anda terus memantau pembaruan terkini untuk mengetahui kepastian waktu shalat Tarawih pertama malam ini. Persiapkan diri lahir dan batin, karena bulan suci sudah sangat dekat di depan mata! (*)