“Kita upgrade masyarakat lokal lewat SMK supaya bisa masuk bekerja di IKN,” ujarnya.
Langkah ini sejalan dengan visi pemerataan manfaat pembangunan ibu kota baru.
Keunggulan konsep Syubbanul Wathon terletak pada integrasi antara pendidikan vokasi dan pembentukan karakter.
Menurut Gus Yusuf, dunia kerja tidak hanya butuh keterampilan, tetapi juga moral dan etika.
“Tapi itu kan butuh attitude dan moral yang bagus juga. Di sinilah peran pesantren membangun karakter, tanggung jawab, etika, sementara skill-nya lewat SMK,” ungkapnya.
Model pendidikan ini diharapkan melahirkan lulusan yang:
Siap kerja
Berakhlak
Disiplin
Bertanggung jawab
Prioritaskan Alumni Kalimantan Jadi Pengajar
Untuk tenaga pendidik pesantren, API Tegalrejo akan memprioritaskan alumni sendiri.
Khususnya alumni yang berasal dari Kalimantan agar lebih memahami kultur lokal.
“Kalau tenaga pendidik pesantren tentu dari alumni-alumni kita. Saya prioritaskan alumni yang ada di Kalimantan,” jelas Gus Yusuf.
Sementara itu, tenaga pengajar SMK akan direkrut melalui kerja sama dengan dinas pendidikan setempat.
Kolaborasi ini penting untuk memastikan standar pendidikan vokasi tetap terjaga.
Kehadiran pesantren dan SMK di IKN menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem kota baru.
Tidak hanya infrastruktur pemerintahan, tetapi juga:
Pendidikan
SDM
Sosial keagamaan
harus berkembang seiring.
Sekolah vokasi berbasis pesantren seperti Syubbanul Wathon dinilai mampu menjawab kebutuhan tersebut.
Target Mulai Beroperasi 2027
Jika seluruh proses berjalan lancar, pembangunan akan dimulai setelah Lebaran 2026.
Dengan demikian, target penerimaan siswa baru dipasang pada tahun ajaran 2027.
Artinya, dalam waktu dekat kawasan IKN tidak hanya diisi kantor pemerintahan, tetapi juga lembaga pendidikan berbasis keislaman dan vokasi.







