Oleh: Dahlan Iskan
Inilah dua orang yang tahu kapan harus berhenti jadi wartawan. Dua-duanya kini jadi profesor-doktor.
Satu di Universitas Airlangga, Surabaya. Satunya lagi Universitas Brawijaya, Malang. Yang satu sudah agak lama (Desember 2024), satunya lagi besok: Prof Dr Prija Djatmika. Rabu 11 Februari 2026.
Imron Mawardi (Amang), yang lebih dulu jadi guru besar, kini menjabat wakil dekan di Unair. Prija Djatmika sudah lama muter ke mana-mana: dipakai jadi saksi ahli di Mabes Polri, Polda-Polda, Kejaksaan sampai ke persidangan di pengadilan.
“Orang itu, kalau berprestasi di satu bidang, cenderung tetap berprestasi –ketika pindah ke bidang yang lain”.
Anda masih ingat siapa yang beberapa kali mengatakan itu. Pun Imron dan Prija. Keduanya sangat berprestasi sebagai wartawan. Tetap berprestasi di kampus masing-masing.
Betapa menyesal keduanya kalau mereka tetap bertahan sebagai wartawan –pun dengan alasan idealisme dan cinta profesi.
Saat Imron naik pangkat menjadi redaktur ekonomi di Jawa Pos, saya memberinya modal Rp 100 juta –cukup besar saat itu. Dengan uang itu saya minta Imron bermain saham. Beneran. Di bursa efek Indonesia.
Syaratnya hanya satu: diskusikan dengan semua wartawan ekonomi yang jadi anak buahnya. Yakni saham mana yang harus dibeli. Kapan harus dijual untuk dibelikan saham lagi.
Saya ingin wartawan ekonomi tidak hanya menulis tentang saham tapi juga mengerti seluk beluk permainan di dalamnya. Mempraktikkannya.
Semua keputusan saya serahkan sepenuhnya kepada Imron. Tidak perlu minta izin. Misalkan rugi tidak apa-apa. Ludes pun tidak masalah: itu seperti uang kuliah.
Tentu saya mengucapkan semua itu dalam hati. Ternyata beneran. Saya lupa menanyakan kelanjutannya. Pun sampai saya dan Imron meninggalkan Jawa Pos.
Demikian juga waktu saya membeli Jaguar atau pun Mercy S500. Secara bergilir wartawan saya minta mencoba mengemudikannya. Setidaknya ikut naik di dalamnya: itu juga kuliah kerja nyata.
“Bagaimana kalau menabrak?”
“Tidak apa-apa. Ini kan diasuransikan,” jawab saya selalu.







