Ketua RW 9 Kebon Bawang, Eka Kurniawan, membeberkan sisi lain dari sang politisi yang jarang tersorot kamera nasional. Menurutnya, Sahroni adalah sosok yang tetap rendah hati meski sudah berada di puncak karier politik.
“Pak Sahroni bukan orang sombong. Dia bersedia meluangkan waktu untuk ngobrol bersama warga. Beberapa kali ngobrol tentang situasi di DPR RI, saya menilai keberpihakannya sangat kuat kepada masyarakat,” tegas Eka Kurniawan saat memberikan kesaksiannya.
Kedermawanan Tanpa Henti Meski Terkena Musibah
Eka juga menceritakan momen luar biasa saat rumah atau aset Sahroni pernah mengalami penjarahan. Bukannya menutup diri karena trauma atau marah, Sahroni justru menunjukkan sikap yang sulit dipercaya. Hanya berselang tiga hari setelah kejadian pahit tersebut, ia tetap turun ke jalan untuk membagikan sembako kepada warga sekitar yang membutuhkan.
Rutinitas sosialnya pun terjaga dengan konsisten. Setiap minggu, ia rutin menyantuni anak yatim piatu dan mengadakan program “Jumat Berkah” untuk warga Kebon Bawang. Hal inilah yang membuat tokoh masyarakat setempat merasa heran dengan narasi negatif yang berkembang di dunia maya.
“Itu kan orang luar semua tidak tahu. Seperti yang di TikTok menjelekkan Pak Sahroni, itu karena mereka tidak mengenal lebih dalam Pak Sahroni,” tambah Eka dengan nada kecewa terhadap para netizen.
Pesan Menohok Tetangga untuk Netizen: Berhenti Menghujat!
Senada dengan Eka, Saunah, seorang tetangga yang tinggal di lingkungan RT 1 RW 9 Kebon Bawang, memberikan pembelaan keras. Baginya, Ahmad Sahroni adalah putra asli Kebon Bawang yang jujur dan sangat dermawan. Ia merasa sedih melihat orang baik yang banyak membangun lingkungan justru menjadi sasaran kebencian di internet.
“Ahmad Sahroni ini asli Kebon Bawang, orang yang banyak membantu. Tapi kok ada yang benci sama orang baik,” ungkap Saunah penuh tanya.
Ia pun menyampaikan pesan khusus kepada para netizen agar tidak lagi memberikan stigma negatif tanpa dasar yang kuat. Saunah berharap agar pihak-pihak yang mencoba memojokkan atau menzalimi Sahroni segera menyadari kekeliruan mereka karena realita di lapangan menunjukkan sosok yang sangat berbeda.