Home Uncategorized Canggih! Basilika Nusantara di IKN Pakai Lonceng Impor Belanda dan Sistem Digital
Uncategorized

Canggih! Basilika Nusantara di IKN Pakai Lonceng Impor Belanda dan Sistem Digital

Share
Share

IKNPOS.ID – Siluet megah Basilika Santo Fransiskus Xaverius kini berpendar di tengah rimba Kalimantan Timur.

Berdiri anggun di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), rumah ibadah ini digadang-gadang menjadi salah satu ikon spiritual baru di jantung ibu kota masa depan Indonesia.

Tak sekadar gereja biasa, basilika ini mengusung konsep yang tak lazim: perpaduan arsitektur vernakular Nusantara dengan teknologi digital mutakhir.

Di tengah narasi besar pembangunan kota cerdas (smart city), bangunan suci ini justru tampil sebagai simbol harmoni antara iman, budaya, dan inovasi.

Arsitektur Tropis Bertemu Teknologi Digital

Basilika ini berdiri di atas bukit dengan latar alam tropis yang lebat. Desainnya memadukan atap vernakular khas Nusantara dengan struktur modern yang monumental.

Dari kejauhan, siluet atapnya tampak menjulang, menciptakan kesan megah sekaligus menyatu dengan lanskap hijau Kalimantan.

Namun yang membuatnya berbeda adalah integrasi teknologi digital dalam sistem liturginya. Lonceng dan salib raksasa yang didatangkan khusus dari Belanda dioperasikan sepenuhnya secara digital.

Sistem ini memungkinkan pengaturan dentang lonceng secara presisi, termasuk sinkronisasi dengan kalender gerejawi. Pencahayaan salib juga bisa diatur otomatis mengikuti momen-momen liturgi tertentu.

Wakil Menteri Agama Muhammad Syafi’i menyebut integrasi teknologi tersebut sebagai jembatan antara tradisi Eropa dan modernitas Indonesia.

“Pemasangannya ditargetkan rampung bulan depan, Maret 2026, sehingga persiapan peribadatan dan pertemuan para uskup yang digelar Mei 2026 dapat berjalan sesuai rencana,” ujarnya.

Digitalisasi ini bukan sekadar gaya. Di kota yang dirancang sebagai smart city, setiap infrastruktur diharapkan terhubung dalam jaringan terintegrasi, termasuk rumah ibadah.

Filosofi “Bangunan yang Bernafas”

Di balik kecanggihan teknologinya, basilika ini tetap berakar pada kearifan lokal. Principal Architect Titik Garis Bidang, Mei Mumpuni, merancang bangunan ini dengan filosofi “Bangunan yang Bernafas”.

Konsep tersebut diwujudkan melalui ventilasi alami dalam skala besar untuk merespons iklim tropis. Sistem ini mengurangi ketergantungan pada pendingin udara buatan yang boros energi.

Atap vernakular Nusantara mendominasi tampilan bangunan. Selain memberi perlindungan dari terik matahari dan hujan tropis, desain tersebut menciptakan ruang tengah (nave) yang tinggi dan lapang. Efeknya, umat yang beribadah akan merasakan pengalaman ruang yang khidmat dan transenden.

Menariknya lagi, Mei Mumpuni menerapkan konsep “Sains Nusantara” dalam perancangannya. Angka 17, 8, dan 45 yang merujuk pada tanggal kemerdekaan Indonesia diterapkan pada berbagai dimensi penting bangunan, mulai dari tinggi menara lonceng hingga ukuran altar.

Pendekatan ini menjadi pernyataan simbolik bahwa iman Katolik di IKN tetap berpijak pada identitas kebangsaan Indonesia.

Investasi Strategis Bernilai Ratusan Miliar

Proyek pembangunan basilika ini dikerjakan oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dengan anggaran APBN sebesar Rp 704,9 miliar.

Kompleks basilika berdiri di atas lahan seluas 2.023 hektar di Kawasan Peribadatan IKN. Fasilitas yang dibangun tidak hanya mencakup gedung gereja utama, tetapi juga sarana pastoral yang komprehensif.

Gedung gereja empat lantai memiliki luas 8.586 meter persegi dan mampu menampung hingga 1.600 jemaat. Selain itu, terdapat Wisma Uskup tiga lantai dengan 43 kamar untuk akomodasi pimpinan gereja dari seluruh Indonesia.

Interior bangunan dihiasi ornamen buah pala dan tenun Banda. Elemen ini merujuk pada jejak misi pertama Santo Fransiskus Xaverius di Ambon, Maluku—menghubungkan sejarah panjang gereja dengan konteks Indonesia Timur.

Menanti Restu Vatikan

Meski progres fisik pembangunan mendekati 100 persen, ada satu tahap penting yang masih dinantikan: penetapan status resmi sebagai basilika dari Takhta Suci Vatikan.

Status “Basilika” bukan sekadar nama. Ia adalah gelar kehormatan kanonik yang memerlukan proses verifikasi ketat.

Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi KWI, Riston Situmorang, menjelaskan bahwa penetapan tersebut baru bisa difinalisasi setelah bangunan benar-benar selesai secara fisik dan fungsi.

“Status ini merupakan gelar kehormatan yang memerlukan verifikasi ketat, termasuk penyelesaian tuntas konstruksi bangunan terlebih dahulu,” jelasnya.

Jika semua berjalan sesuai rencana, Mei 2026 akan menjadi momen bersejarah. Basilika ini dijadwalkan menjadi tuan rumah Sidang Tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Simbol Peradaban Baru di IKN

Kehadiran Basilika Santo Fransiskus Xaverius di IKN bukan hanya soal bangunan fisik. Ia menjadi simbol bahwa pembangunan ibu kota baru tidak semata soal gedung pemerintahan dan infrastruktur modern.

Di tengah rimba Nusantara, dentang lonceng digital akan menjadi penanda bahwa iman, teknologi, dan identitas kebangsaan dapat berjalan seirama.

Dengan konsep arsitektur tropis, sistem digital terintegrasi, serta sentuhan historis yang kuat, basilika ini berpotensi menjadi ikon spiritual sekaligus destinasi religi di Kalimantan Timur.

Ketika para uskup dari seluruh penjuru Indonesia berkumpul di sana pada Mei 2026, momen itu akan menjadi penegasan bahwa di IKN, pembangunan peradaban baru Indonesia juga ditopang oleh fondasi nilai dan spiritualitas yang kokoh.

Share
Related Articles
Pre-order Oppo Find X9 Ultra Indonesia
Uncategorized

Oppo Find X9 Ultra Usung Kamera Periskop Baru dengan Zoom Optik 10x

IKNPOS.ID - Oppo mulai mengungkap sejumlah kemampuan kamera yang dibawa ponsel terbarunya,...

Rusun MBR Sepaku IKN
Uncategorized

Kontraktor Pemula Wajib Tahu! Cara Buat RAB Bangunan Anti Boncos untuk Proyek Pertama

IKNPOS.ID - Banyak kontraktor pemula terjun ke proyek pertama dengan penuh semangat,...