IKNPOS.ID – Media sosial sedang dihebohkan dengan pemandangan air berwarna hijau toska yang berkilau di tengah terik matahari Kutai Kartanegara (Kukar). Sekilas, tempat ini tampak seperti destinasi wisata premium di luar negeri. Namun siapa sangka, keelokan ini lahir dari “rahim” industri: sebuah lubang raksasa bekas galian batubara.
Wajah Desa Panca Jaya, Kecamatan Muara Kaman, kini berubah total. Lokasi yang dulunya lahan gersang terbengkalai, kini disulap menjadi destinasi wisata keluarga populer yang dijuluki Danau Biru.
1. Pesona Visual yang Menipu Mata
Warna air hijau memikat yang menjadi daya tarik utama Danau Biru berasal dari proses alami mineral tanah yang bereaksi setelah aktivitas tambang berhenti.
Tebing-tebing estetik sisa galian menambah kesan dramatis, menjadikannya latar belakang foto yang sangat Instagrammable.
“Iya, ke sini karena lihat viral di medsos. Ternyata aslinya memang bagus dan ramai banget buat liburan keluarga,” ujar Nurjayanti, salah satu pengunjung yang rela menempuh perjalanan jauh dari Tenggarong Seberang.
2. Tarif Merakyat
Hanya dengan biaya parkir Rp3.000 untuk motor dan Rp5.000 untuk mobil, siapa pun bisa menikmati kemewahan visual ini. Kehadiran Danau Biru menjadi oase ekonomi baru bagi warga.
- BUMDes: Resmi mengelola kawasan sebagai lapangan kerja baru.
- Wisata Air: Tersedia penyewaan perahu karet seharga Rp50.000.
- Kuliner Lokal: Warung-warung kecil menjamur, meningkatkan pendapatan warga lokal seperti Ibu Yatimah yang kini semringah berdagang di sana.
3. Di Balik Keindahan dengan Kedalaman 20 Meter
Meski cantik, pengelola tidak main-main soal keselamatan. Air danau ini memiliki kedalaman ekstrem hingga 20 meter. Petugas Linmas setempat disiagakan untuk memastikan pengunjung patuh pada aturan.
“Wajib menggunakan pelampung yang telah kami sediakan di bibir danau. Kami tidak ingin keselamatan terabaikan hanya demi kesenangan,” tegas Yusran, perwakilan pengelola.
4. Menanti Hasil Uji Lab: Amankah Airnya?
Pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar mengingatkan bahwa estetika tidak boleh mengabaikan kajian teknis. Kepala DLHK, Slamet Hadiraharjo, menekankan pentingnya kepastian status lahan dan kelayakan lingkungan.







