IKNPOS.ID – Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen secara terbuka dan tegas menolak gagasan agar wilayah Arktik tersebut menjadi bagian dari Amerika Serikat.
Dalam situasi geopolitik yang memanas, Nielsen menegaskan Greenland tetap berada dalam Kerajaan Denmark dan belum akan melangkah menuju kemerdekaan penuh dalam waktu dekat.
Pernyataan ini menjadi sinyal kuat di tengah meningkatnya tekanan politik dari Washington yang kembali mengangkat wacana akuisisi Greenland.
“Greenland tidak akan dimiliki, dikendalikan, atau menjadi bagian dari Amerika Serikat,” tegas Nielsen.
Sikap resmi Greenland disampaikan menjelang pertemuan penting di Washington D.C. yang mempertemukan perwakilan Denmark dan Greenland dengan pejabat tinggi Amerika Serikat. Yakni Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Wakil Presiden JD Vance.
Agenda utama pertemuan tersebut adalah meredakan ketegangan diplomatik setelah muncul kembali pernyataan dari lingkaran pemerintahan Donald Trump yang menyiratkan niat mencaplok pulau strategis tersebut. Nielsen menilai situasi ini serius dan tidak bisa dianggap remeh.
Ancaman Caplok Dinilai Tidak Pantas
Menurut Nielsen, wacana pengambilalihan Greenland oleh AS merupakan pendekatan yang tidak menghormati prinsip kedaulatan dan hubungan antarnegara.
“Ancaman semacam ini sama sekali tidak pantas,” ujarnya dalam konferensi pers.
Ia menegaskan masa depan Greenland harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri. Bukan oleh kepentingan kekuatan besar dunia.
Meskipun isu kemerdekaan dari Denmark telah lama menjadi perdebatan di wilayah berpenduduk sekitar 57.000 jiwa itu, hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan mayoritas warga menolak keras bergabung dengan Amerika Serikat.
Fakta ini juga tercermin dalam pemilu Maret tahun lalu. Tiga dari empat pemilih mendukung partai yang mengusung pendekatan bertahap dan hati-hati menuju kemerdekaan. Bukan melebur dengan negara asing.
Menjawab pertanyaan apakah wacana kemerdekaan perlu dihentikan sementara, Nielsen menekankan pentingnya persatuan nasional.







