IKNPOS.ID – Peristiwa longsor di tempat pembuangan akhir atau landfill kembali menyorot persoalan keselamatan lingkungan dan tata kelola sampah di kawasan perkotaan. Longsor yang terjadi di Binaliw landfill, wilayah Cebu City, Filipina, menewaskan sedikitnya 11 orang dan membuat puluhan lainnya masih dinyatakan hilang. Tragedi ini tidak hanya menghadirkan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga memunculkan pertanyaan serius mengenai standar keamanan, perencanaan teknis, serta dampak perubahan iklim terhadap infrastruktur pengelolaan limbah.
Kronologi Longsor di Binaliw Landfill
Longsor terjadi saat lebih dari seratus pekerja berada di area landfill untuk menjalankan aktivitas rutin. Tumpukan sampah dalam jumlah besar tiba-tiba runtuh, menimbun bangunan dan pekerja di sekitarnya. Tim penyelamat berhasil mengevakuasi sejumlah korban luka, namun upaya pencarian korban yang tertimbun masih menghadapi tantangan besar. Otoritas setempat menyebut peluang menemukan korban selamat semakin kecil seiring berlalunya waktu dan kondisi material longsoran yang sangat tidak stabil.
Seorang pejabat pemadam kebakaran setempat menyampaikan bahwa tim menghadapi hambatan berupa volume sampah yang sangat besar serta risiko longsor susulan. Pernyataan tersebut mencerminkan kondisi darurat yang kompleks, di mana keselamatan tim penyelamat harus tetap terjaga di tengah tekanan untuk menemukan korban secepat mungkin.
Faktor Penyebab: Hujan, Beban Sampah, dan Aspek Teknik
Laporan awal dari otoritas geologi setempat mengindikasikan bahwa curah hujan tinggi yang berlangsung selama beberapa pekan menjadi salah satu faktor utama. Air hujan meningkatkan berat dan tekanan pada tumpukan sampah, sehingga menurunkan stabilitas lereng landfill. Dalam ilmu geoteknik modern, peningkatan kadar air pada material heterogen seperti sampah dapat menurunkan kohesi dan meningkatkan risiko pergeseran massa.
Selain faktor hujan, para ahli juga menyoroti kemungkinan masalah desain dan pengelolaan. Landfill membutuhkan sistem drainase air lindi, pemadatan berlapis, serta pemantauan lereng secara berkala. Tanpa standar teknik yang memadai, tumpukan sampah berpotensi berperilaku seperti tanah jenuh air yang mudah longsor. Fakta ini selaras dengan berbagai studi internasional yang menunjukkan bahwa kegagalan landfill sering kali bersifat multifaktorial, bukan hanya akibat satu penyebab tunggal.







