IKNPOS.ID – Tak ingin warganya menua tanpa daya, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyiapkan terobosan baru untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat lanjut usia. Melalui Program Lansia Berdaya (Sidaya), para warga berusia 60 tahun ke atas akan difasilitasi agar tetap aktif, sehat, dan produktif di usia senja.
Program yang digagas Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim ini mengusung konsep Sekolah Lansia, sebuah pendekatan edukatif yang dirancang khusus untuk menjawab kebutuhan fisik, mental, dan sosial para lansia.
“Lewat program ini, kami ingin lansia tetap memiliki pengetahuan kesehatan, mampu merawat diri, dan menjalani masa tua dengan lebih bermakna,” ujar Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, di Sangatta, Kamis (15/1/2026).
Sekolah Lansia Pertama di Kutai Timur
Program Sidaya menjadi yang pertama kali diterapkan di Kutai Timur. Peluncuran perdana direncanakan berlangsung di Kecamatan Sangatta Utara dan ditargetkan resmi berjalan paling lambat akhir Januari 2026.
Saat ini, DPPKB masih melakukan verifikasi dan validasi data calon peserta di lapangan guna memastikan program tepat sasaran dan berjalan optimal sejak awal.
“Sekolah lansia ini belum pernah ada sebelumnya di Kutai Timur. Karena itu, kami ingin memastikan persiapannya benar-benar matang sebelum resmi diluncurkan,” jelas Junaidi.
Belajar di Balai Desa hingga Tempat Ibadah
Pelaksanaan Sekolah Lansia Sidaya akan memanfaatkan berbagai fasilitas publik yang sudah tersedia, mulai dari balai desa, gedung kelurahan, hingga tempat ibadah. Pendekatan ini dipilih agar program mudah diakses dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari para lansia.
Tak hanya itu, DPPKB juga menggandeng lintas sektor sebagai tenaga pengajar dan fasilitator, termasuk Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, serta rumah sakit.
“Kolaborasi menjadi kunci agar materi yang disampaikan benar-benar relevan, mulai dari kesehatan, kebugaran, hingga kesejahteraan mental lansia,” katanya.
Ada Wisuda dan Sertifikat
Uniknya, Sekolah Lansia Sidaya menerapkan sistem pembelajaran berjenjang, mulai dari standar 1 hingga standar 3. Setiap jenjang terdiri dari 12 kali pertemuan dengan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan usia lanjut.







