IKNPOS.ID – Konfederasi Sepak Bola Afrika menjatuhkan sanksi skors dan denda kepada Samuel Eto’o setelah panel disiplin menyatakan dirinya bersalah atas pelanggaran prinsip sportivitas. Hukuman tersebut berupa larangan terlibat dalam empat pertandingan serta denda sebesar 20.000 dolar Amerika Serikat. Putusan ini berkaitan langsung dengan insiden yang terjadi pada laga perempat final Piala Afrika 2026 antara Kamerun dan Maroko.
Pada pertandingan yang berlangsung di Rabat tersebut, Kamerun harus mengakui keunggulan Maroko dengan skor 0-2. Dalam situasi penuh tekanan itu, Eto’o yang kini menjabat sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Kamerun terlihat menunjukkan gestur kemarahan terhadap sejumlah keputusan wasit. Tindakan tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi otoritas disiplin CAF.
CAF menilai bahwa perilaku tersebut tidak mencerminkan sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh seorang pejabat federasi nasional, terlebih dalam pertandingan internasional dengan sorotan luas.
Insiden Kamerun vs Maroko dalam Pengawasan Ketat
Laga perempat final Piala Afrika antara Kamerun dan Maroko menjadi salah satu pertandingan paling disorot pada fase gugur turnamen. Ketegangan tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga melibatkan ofisial dan pihak non-pemain. CAF sebelumnya telah menyatakan keprihatinan atas berbagai insiden pada babak perempat final, termasuk konfrontasi dan perilaku yang dinilai tidak dapat diterima.
Dalam konteks ini, tindakan Eto’o dianggap memperburuk situasi. CAF menegaskan bahwa setiap perwakilan resmi federasi anggota wajib menghormati perangkat pertandingan serta menjaga sikap profesional, terlepas dari hasil atau keputusan yang dianggap merugikan.
Keberadaan pimpinan tertinggi CAF di stadion saat pertandingan berlangsung semakin memperkuat penilaian bahwa insiden tersebut terjadi dalam pengawasan langsung otoritas sepak bola Afrika.
Penolakan Fecafoot dan Sikap Membela Eto’o
Federasi Sepak Bola Kamerun secara tegas menolak keputusan CAF tersebut. Dalam pernyataan resminya, Fecafoot menyebut proses disipliner yang dijalankan CAF menimbulkan keraguan serius terhadap prinsip peradilan yang adil. Federasi itu juga menyatakan dukungan penuh kepada Samuel Eto’o sebagai presidennya.
Fecafoot mengindikasikan bahwa langkah banding akan ditempuh guna menantang sanksi tersebut. Menurut federasi, persoalan ini tidak hanya menyangkut individu, tetapi juga menyentuh martabat organisasi dan hak federasi nasional dalam proses hukum olahraga di tingkat benua.
Sikap ini mencerminkan ketegangan yang masih kerap muncul antara federasi nasional dan otoritas kontinental, khususnya terkait tata kelola, disiplin, dan transparansi proses pengambilan keputusan.







