Dulu orang bangun pabrik cari pasar. Sekarang orang bangun pasar dulu, pabrik tinggal pesan. Dunia sudah jungkir balik, tapi justru di situ peluangnya ramai.
Viva bertahan 62 tahun di tengah serbuan “semut”. Itu pelajaran penting. Yang besar jangan sombong. Yang kecil jangan minder. Di bisnis, yang gesit sering lebih panjang napas daripada yang kekar tapi kaku. Satu mati, seribu tumbuh. Mirip tukang gorengan, tapi versi skincare.
Tapi saya juga senyum baca kisah Pentol Kabul. Dari sepeda keliling jadi 200 outlet. Itu startup rasa kuah kaldu.
Sementara SiniNgaji, 6.000 murid online, 250 guru.
Ini edutech plus akhirat-tech.
Investor mungkin belum masuk, malaikat pencatat sudah duluan.
Kumpul orang optimis memang berbahaya. Bisa bikin yang ikut-ikutan jadi merasa masih 30 tahun. Padahal lutut sudah bunyi kalau naik tangga.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
HALAL ITU STRATEGI:
KALAH RAPI MENATA CERITA?
Yang juga menarik adalah kawasan industri halal itu. Banyak orang kira ini urusan label agama saja. Tempel logo. Selesai.
Ternyata tidak sesederhana stiker di kemasan. Ini soal rantai proses. Soal kepercayaan global. Soal positioning negara. Halal naik kelas jadi strategi dagang.
Indonesia mayoritas muslim. Tapi ekspor halal kalah dari Malaysia. Bahkan Singapura ikut main. Ironi level premium.
Kita punya pasar. Mereka punya sistem. Kita punya bahan. Mereka punya branding negara. Jadi yang kurang bukan doa. Tapi orkestrasi.
Kawasan halal itu ibarat bandara khusus ekspor kepercayaan. Sekali lolos dari situ, produk langsung punya paspor psikologis. Di Timur Tengah laku. Di Eropa dilirik. Di Asia Tenggara dipercaya. Ini bukan cuma syariah. Ini marketing kelas geopolitik.
Menariknya lagi, pengusahanya bukan ustaz. Tapi pebisnis Tionghoa dari Padang. Ini Indonesia banget. Halal dibangun lintas iman. Demi pasar bersama. Demi devisa bersama. Kalau ini berhasil, yang panen bukan cuma pabrik. Tapi citra negara.
Kadang yang bikin kita kalah bukan kualitas barang. Tapi kalah rapi menata cerita.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺







