Selama ini, Projo identik dengan penggunaan wajah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), pada logonya. Namun, Budi Arie menyatakan bahwa era identifikasi tunggal tersebut harus berakhir demi kesehatan organisasi.
“Projo akan melakukan transformasi organisasi, yang salah satunya adalah kemungkinan mengubah logo Projo. Logo Projo akan kita ubah supaya tidak terkesan kultus individu,” ujar Budi Arie kepada awak media seusai pembukaan Kongres III.
Penghapusan ikon individu tertentu dalam logo ini menjadi sinyal kuat bahwa Projo ingin menempatkan dirinya sebagai organisasi relawan yang bergerak berdasarkan ideologi, bukan sekadar ketokohan individu, seiring dengan dinamika politik nasional pasca-pilpres.
Penegasan Filosofi Nama: Projo Bukan Sekadar ‘Pro Jokowi’
Lebih lanjut, Budi Arie juga menggunakan momentum Kongres untuk meluruskan persepsi publik yang selama ini melekat pada nama organisasi. Ia menegaskan bahwa meskipun logonya berubah, nama Projo akan tetap dipertahankan, namun dengan pemaknaan yang lebih mendalam.
Selama ini, publik sering mengartikan Projo sebagai singkatan dari “Pro Jokowi.” Budi Arie meluruskan bahwa nama Projo memiliki akar filosofis yang lebih tua dan lebih luas.
Nama Projo, menurutnya, berasal dari bahasa Sanskerta dan Jawa Kawi. Nama ini memiliki makna yang mengakar pada nilai-nilai kerakyatan dan nasionalisme, menjadikannya identitas yang melampaui dukungan politik sesaat. Penegasan makna ini menjadi bagian dari upaya Projo untuk memperkuat legitimasi dan relevansi ideologisnya dalam lanskap politik Indonesia di masa mendatang.
Terpilihnya kembali Budi Arie, ditambah dengan janji transformasi identitas organisasi, menempatkan Projo sebagai salah satu organisasi relawan paling dinamis yang siap menghadapi era politik pasca-kepemimpinan Jokowi dengan wajah baru dan visi yang diperbarui.







