Home Borneo Gubernur Kaltim Sindir Bagi Hasil Pajak Tidak Maksimal: ‘Kita Punya Areal Tapi Tak Dapat Apa-apa’
Borneo

Gubernur Kaltim Sindir Bagi Hasil Pajak Tidak Maksimal: ‘Kita Punya Areal Tapi Tak Dapat Apa-apa’

Share
bagi hasil pajak
Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas'ud soal bagi hasil pajak tidak maksimal.Foto: @pemprov_kaltim
Share

IKNPOS.ID – Kalimantan Timur (Kaltim) kaya tambang dan perkebunan sawit, tetapi dukungan APBD-nya kurang. Ini karena bagi hasil pajak kendaraan bermotor, sawit dan tambang tidak maksimal.

Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud mengatakan, membangun Kaltim yang luasya mencapai 12,7 juta hektare memerlukan anggaran sangat besar.

Faktanya Kaltim memang memiliki suber daya alam berlimpah dengan banyaknya tambang dan perkebunan kelapa sawait.

Kondisi ini, kata Rudy menarik perhatiannya. Dia mendorong agar Kaltim segera melompat jauh ke depan untuk melakukan optimalisasi pendapatan daerah melalui pajak.

Pasalnya, banyak sumber-sumber pendapatan daerah yang menurut Rudy belum terkelola dan terserap dengan baik.

Salah satunya adalah pendapatan daerah dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Berdasarkan data dari Bappeda Kaltim, pajak dari sektor ini masih kurang maksimal.

“Bagi hasil pajak daerah untuk Kutai Timur pada 2024 sebesar Rp1,1 triliun. Sedangkan Samarinda Rp654 miliar dan Kukar Rp614 miliar,” paparnya belum lama ini.

Rudy mempertanyakan, bagaimana mungkin Kutim yang jumlah penduduknya tidak banyak, tetapi memberikan bagi hasil ke Pemprov Kaltim lebih besar ketimbang Samarinda dan Kukar.

Seharusnya Samarinda dan Kukar yang memiliki perusahaan tambang dan pendapatan lebih banyak bisa memberikan bagi hasil pajak lebih tinggi. Namun cuma Kutim yang memberikan bagi hasil pajak tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Pemprov yang memiliki areal, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari pajak itu, baik perikanan atau perhubungan.

“Kita punya areal, tapi kita tidak dapat apa-apa. Dari perikanan nol, dari perhubungan pun nol,” ujarnya mengkritik.

Karena itu penting dilakukan optimalisasi pajak hingga mencapai 100 persen. Baik PKB, BBNKB dan pajak hasil tambang.

Rudy memastikan tidak optimalnya pajak bukan karena kebocoran, tetapi karena tidak dipungut secara maksimal.

“Mungkin bukan karena ada kebocoran, tapi belum banyak yang terpungut saja. Ini yang harus kita lebih maksimalkan lagi,” ujarnya.

Share
Related Articles
Tol Akses IKN Gratis Mudik 2026
Borneo

Tol IKN Seksi 3A-2 Percepat Akses Balikpapan–Samarinda ke Kawasan Pemerintahan Baru

IKNPOS.ID - Keberadaan Jalan Tol Ibu Kota Nusantara (IKN) Seksi 3A-2 mulai...

Borneo

Mengejutkan! Kaltim Siapkan 1.270 Ton Sampah per Hari Demi Listrik, Ini Rencana Besarnya

IKNPOS.ID - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) tengah menyiapkan pasokan sampah...

Borneo

Sorotan Ekonom soal IKN: Risiko Pemborosan hingga Usulan Kampus dan Alih Fungsi Infrastruktur

IKNPOS.ID - Proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) kembali menjadi topik hangat dalam...

Program bedah rumah Kaltim digeber, kuota naik jadi 3.000 unit. Jadwal dipercepat, Balikpapan jadi fokus utama pemerintah.
Borneo

Bedah Rumah Digeber! Kuota Melejit 3.000 Unit di Kaltim, Jadwal Maju—Balikpapan Jadi Sorotan

IKNPOS.ID - Pemerintah tancap gas mempercepat program bedah rumah di Kalimantan Timur....