Banyak investor tetap optimis dalam jangka panjang, regulasi yang lebih jelas akan membuka jalan bagi penerimaan Bitcoin sebagai aset cadangan di beberapa negara. Seorang analis dari KAIST Graduate School of Finance, Kang Tae-soo, menyoroti bahwa meskipun AS lebih memilih stablecoin dibandingkan Bitcoin untuk mempertahankan hegemoni dolar, potensi adopsi Bitcoin di masa depan tetap terbuka.
Peran IMF dalam Pengakuan Aset Kripto
Stablecoin vs Bitcoin
Salah satu faktor kunci yang akan menentukan masa depan Bitcoin sebagai aset cadangan adalah sikap IMF terhadap aset kripto. Saat ini, IMF lebih cenderung mendukung stablecoin karena stabilitas harganya yang terkait dengan aset fiat seperti dolar AS. Namun, jika IMF suatu saat mengakui Bitcoin sebagai aset cadangan, hal ini bisa menjadi titik balik bagi adopsi Bitcoin oleh bank sentral di seluruh dunia.
Keputusan Bank of Korea untuk menolak Bitcoin sebagai cadangan devisa menegaskan sikap hati-hati bank sentral terhadap aset kripto. Meskipun beberapa negara seperti Ceko mulai mempertimbangkan langkah berbeda, mayoritas bank sentral masih menganggap Bitcoin terlalu volatil untuk menjadi bagian dari cadangan resmi mereka.
Bagi para trader dan investor, ini adalah pengingat bahwa adopsi Bitcoin oleh lembaga keuangan besar masih membutuhkan waktu. Namun, dengan berkembangnya regulasi dan adopsi lebih luas di sektor swasta, Bitcoin tetap memiliki peluang besar di masa depan.
- Alasan Bank of Korea Menolak Bitcoin
- Alasan Bank of Korea tolak Bitcoin
- Apakah Bitcoin bisa jadi cadangan devisa
- Bank of Korea
- Bank of Korea tolak Bitcoin
- Bank of Korea vs Bitcoin
- Bitcoin
- Bitcoin sebagai cadangan devisa
- BTC
- Cadangan devisa Korea Selatan
- Dampak penolakan Bitcoin oleh BoK
- Perbandingan bank sentral terhadap aset kripto
- Regulasi Bitcoin di Korea Selatan
- Sikap bank sentral terhadap Bitcoin
- Volatilitas Bitcoin
- Volatilitas Karakter Utama Bitcoin







