TIBA kembali di Makelle saya bersiap salat Jumat. Pada pukul 06.45 masjid sudah hampir penuh. Jumatan di pukul 07.00? Aneh? Bukan tengah hari?
Tidak. Itu jamĀ Ethiopia. Negara ini punya sistem jamnya sendiri. Di jam dinding masjid terlihat jelas di mana letak jarumnya (lihat foto). Pun di jam satunya lagi, yang di kiri mimbar khotbah.
Bagi orang asing, mencocokkan jarum jam itu penting. Agar janji Anda tidak meleset sejauh enam jam. Saya tidak perlu itu. Saya tidak punya alroji. Jam di layar HP saya tidak berubah. Tetap jam GMT minus berapa.
EthiopiaĀ juga punya kalender sendiri: satu tahun 13 bulan. Tiap bulannya tidak ada yang tanggalnya sampai 31. Negara ini juga punya tahunnya sendiri. Sekarang ini bukan tahun 2025. Ini baru tahun 2017.
Tahun barunya pun beda: bukan 1 Januari. Perayaan happy new year di sini selalu 11/9. Tanggal 11 September.
Pun perayaan Natalnya. Bukan 25 Desember. Perayaan Natal di sini jatuh pada tanggal 7 Januari. Tapi trend internasional juga diikuti. Mereka mulai pasang pohon Natal sejak sebelum tanggal 25 Desember.
EthiopiaĀ juga punya huruf sendiri.
Semua itu menandakan bahwa peradapanĀ EthiopiaĀ sudah sangat tua. Lebih tua dari anak burung Kakatua –seperti kata pelawak Guntur: masih anak sudah disebut kakak tua.
Di Makelle khutbahnya pakai bahasa Arab. Panjangnya 12 menit –sudah termasuk doanya yang panjang. Ada ceramah agama sebelum khotbah: dalam bahasa Tigray.
Sang penceramah, sang imam dan yang berkhotbah satu orang. Tua sekali. Bersorban. Suaranya lirih. Pengeras suaranya tidak berfungai dengan jelas. Nada khotbahnya datar. Membosankan.
Di sana rupanya tidak ada pengkhutbah yang semuda dan seganteng pendeta Philip Mantofa yang jadi pujaan anak muda di gereja Mawar Sharon.
Dari masjid, saya minta diantar ke gereja Ortodok terbesar di Makelle. Jaraknya lima menit perjalanan mobil.
Dari jauh bangunan itu saya kira masjid. Berkubah-kubah. Gerbangnya lengkung-lengkung seperti Islami. Itulah gereja Kristen Ortodok terbesar di Makelle.
Jalan masuknya masih tanah. Tanah kering. Halamannya juga masih tanah. Gerbang itu belum sepenuhnya jadi. Baru sepertiga jadi. Kelihatan sekali: pendanaannya seret.