Maghrib Mengaji
Program Magrib Mengaji, meski tidak bersifat wajib, diharapkan dapat mendorong lebih banyak masyarakat untuk aktif dalam kegiatan keagamaan di lingkungan sekitar mereka. “Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat mental spiritual masyarakat, memberikan kesempatan bagi warga untuk lebih dekat dengan ajaran agama mereka, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tambah Mulya.
Pemerintah DKI Jakarta, menurutnya, hadir untuk memberikan dukungan, baik dari segi dana maupun fasilitas, sehingga kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan masyarakat dapat lebih terorganisir dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi kehidupan spiritual mereka. Salah satunya adalah dengan menyediakan makanan bagi peserta yang mengikuti kegiatan Maghrib Magaji di masjid atau mushola setempat, guna mempermudah pelaksanaan kegiatan ini.
Salah satu hal yang membedakan program Magrib Mengaji yang dilanjutkan oleh Ridwan Kamil dan Suswono adalah adanya penyesuaian untuk mendukung keberagaman agama di Jakarta. Mulya Amri menjelaskan bahwa Ridwan Kamil akan memastikan program serupa juga disediakan untuk agama-agama lain.
“Program ini bertujuan untuk penguatan nilai-nilai keimanan dan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya untuk Islam, tapi juga untuk agama-agama lain, kegiatan yang setara dengan Maghrib Magaji akan disediakan. Ini adalah bentuk dukungan terhadap kegiatan keagamaan yang dilaksanakan oleh berbagai agama di Jakarta,” ungkap Mulya.
Hal ini sejalan dengan komitmen Ridwan Kamil dan Suswono untuk menciptakan Jakarta yang lebih inklusif dan toleran, dengan memberi ruang bagi setiap agama untuk berkembang dan meningkatkan kehidupan spiritual warganya. Melalui pendekatan ini, mereka berharap dapat mempererat hubungan antarumat beragama serta menciptakan suasana harmoni di kota metropolitan ini.
Riverway di Jakarta, Peluang Besar untuk Wajah Transportasi Baru
Program Riverway yang dilontarkan oleh Ridwan Kamil, calon gubernur DKI Jakarta, sempat menuai kritik dari sejumlah pihak yang menyebutnya sebagai ide yang tidak memahami konteks Jakarta dan kondisi lingkungan setempat. Namun, menurut Mulya, kritik tersebut justru mencerminkan ketidaktahuan terhadap potensi besar yang dimiliki oleh Jakarta, khususnya terkait dengan kondisi sungai dan kanal di ibu kota.







