Kemudian, lanjut Harianto, upaya pengolahan sampah dari sisi hilir atau kota sebelum masuk ke TPA juga sedang dilakukan.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Pekerjaan Umum (PU) juga mengintensifkan kembali Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) dan Pusat Daur Ulang (PDU).
“Jadi nanti sampah-sampah dari warga itu masuk tidak langsung ke TPA tapi ke TPST, terus diolah di PDU dan residunya lalu ke TPA. Misalkan itu dapat berjalan di satu kecamatan punya satu atau dua TPST sudah lumayan signifikan mengurangi sampah yang masuk ke TPA,” jelasnya.
“Tahun ini sudah ada dua TPST dan ini masih proses instalasi mesin-mesin dan sebagainya. Kalau di Balikpapan kan ada 6 kecamatan, targetnya sih minimal uji coba itu satu kecamatan ada satu TPST bisa mengolah sekitar 30 ton sudah lumayan,” sambungnya.
Harianto mengungkapkan, TPAS Manggar Kota Balikpapan juga masih dalam tahap kajian terkait apakah zona-zona yang penuh itu dapat dilakukan penggalian kembali.
“Sekitar 3 tahun kedepan hingga 2026 mungkin hanya mampu menampung 500 ribu ton. Jadi misalnya zona 1 atau 2 yang sudah penuh, kita garuk, gali, dan pilah lagi sampahnya,” tuturnya.
“Nanti lubangnya bisa kita pakai lagi, itu juga sebagai upaya juga untuk antisipasi 2026, sebab sampah tidak ada hentinya,” imbuhnya.
Harianto berharap, kesadaran masyarakat juga semakin maju untuk melaksanakan pemilahan sampah, baik sampah organik yang dapat diolah menjadi pupuk kompos atau pakan ternak.
Sedangkan sampah anorganik dapat dijual ke bank sampah.
“Jika pemilahan sampah dilaksanakan secara maksimal maka sampah yang masuk ke TPA akan berkurang secara signifikan juga,” tutupnya.