Home News Sejarah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Kerajaan hingga Era Modern
News

Sejarah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Kerajaan hingga Era Modern

Share
Mudik di Jaman Kerajaan, Image: DALL·E 3
Share

IKNPOS.ID – Mudik telah menjadi denyut tahunan masyarakat Indonesia. Setiap menjelang Idulfitri, jutaan orang meninggalkan kota besar untuk kembali ke kampung halaman. Fenomena ini bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan perjalanan emosional yang sarat makna sosial, budaya, dan identitas. Tradisi pulang kampung tersebut memiliki akar panjang dalam sejarah Nusantara, jauh sebelum istilah “mudik” populer seperti sekarang.

Jejak Awal Tradisi Pulang Kampung pada Masa Kerajaan

Pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara seperti Majapahit dan Mataram Islam, mobilitas penduduk sebenarnya telah terjadi, meskipun belum dalam skala modern. Para pedagang, prajurit, dan utusan kerajaan kerap melakukan perjalanan jauh antardaerah. Dalam masyarakat agraris, perpindahan sementara juga terjadi mengikuti musim tanam dan panen.

Meski belum dikenal istilah mudik, kebiasaan kembali ke kampung halaman untuk menghadiri upacara adat, perayaan keagamaan, atau berkumpul bersama keluarga telah mengakar kuat. Pulang kampung menjadi simbol keterikatan pada tanah leluhur dan komunitas asal. Dalam struktur sosial tradisional, identitas seseorang sangat ditentukan oleh asal-usul daerah dan keluarganya. Karena itu, kembali ke desa bukan sekadar perjalanan, melainkan penegasan jati diri.

Urbanisasi pada Era Kolonial dan Cikal Bakal Mudik Modern

Perubahan besar terjadi pada masa kolonial Hindia Belanda. Kota-kota seperti Batavia, Surabaya, dan Semarang berkembang sebagai pusat administrasi dan perdagangan. Banyak penduduk desa merantau untuk bekerja sebagai buruh pelabuhan, pekerja perkebunan, atau pegawai rendahan.

Di sinilah cikal bakal mudik modern terbentuk. Para pekerja yang merantau mulai memiliki pola pulang kampung secara berkala, terutama saat perayaan keagamaan seperti Idulfitri. Transportasi kereta api dan kapal laut yang dibangun pemerintah kolonial mempermudah mobilitas tersebut.

Mudik pada masa ini masih terbatas jumlahnya, tetapi pola dasarnya sudah terlihat: perantau kota kembali ke desa membawa cerita, pengalaman, dan hasil kerja. Kampung halaman menjadi ruang nostalgia sekaligus ruang sosial untuk mempertahankan relasi keluarga.

Share
Related Articles
News

Cara Tukar Uang Baru Lebaran di Bank dan Kas Keliling

IKNPOS.ID - Menjelang Hari Raya Idulfitri, tradisi berbagi uang baru kepada anak-anak...

News

IKN Mulai Peran Baru lewat Rukyatul Hilal

IKNPOS.ID -  Ibu Kota Nusantara (IKN) memulai babak baru dalam perjalanannya sebagai...

News

Link Daftar Mudik Gratis 2026 dan MOTIS Pemprov DKI Jakarta, Ini Jadwal dan Terminal Tujuan

IKNPOS.ID - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali membuka program Mudik Gratis untuk...

ANCAMAN MILITER, Trump Akan Singkirkan Rusia dari Greenland
News

Trump dan Mark Carney Sampaikan Ucapan Selamat Ramadhan

IKNPOS.ID - Menjelang dimulainya bulan suci Ramadhan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump...