Oleh: Dahlan Iskan
Dari daerah manakah mahasiswa Indonesia terbanyak di Tarim? Tergantung siapa yang menjawab. Mahasiswa asal Lombok akan menjawab dari daerahnya. Yang asal Kalsel akan menjawab: dari Banjarmasin.
Yang dari Padang, Jambi, Jakarta, dan Solo, akan menjawab: yang terbanyak dari Kalsel.
Di hari pertama di Tarim saya memang serasa di Banjarmasin. Lobi apartemen saya penuh dengan orang yang bercakap dalam bahasa Banjar. “Pepadaan,” kata saya dalam hati.
Kami pun serasa bertemu saudara sekampung. “Istri saya Galuh Banjar,” kata saya kepada mereka.
Saya ingat masa nan lalu: hari-hari pertama saya sebagai perantau di Samerinda. Suguhan tamu di sana selalu teh susu manis. Manis sekali. Kue utamanya ontok-ontok –roti goreng. Oh… ternyata itu kebiasaan yang ditularkan dari Hadramaut. Persis.
Rasa teh susu di Tarim ini, rasa roti gorengnya: persis seperti teh susu di Kalsel/Kaltim masa lalu. Juga rasa ontok-ontoknya.
Pengaruh Tarim di Kalsel memang terasa sangat dalam. Pada cara ulamanya berpakaian. Pada cara suguhannya. Pun sikap keberagamaannya.
Hubungan Kalsel-Tarim-Hadramaut ternyata hubungan yang sangat dalam.
Tarim sangat “Islami”. Hampir tidak pernah melihat wanita di jalan-jalan. Wanita harus di rumah.
Kalau di Saudi, Tarim adalah Buraidahnya. Di Indonesia adalah Acehnya –dalam bentuk yang lebih ketat.
Tarim pernah terpilih sebagai “ibu kota” kebudayaan Islam dunia.
Saya harus bertanya dulu ke Bung Mirza, sahabat Disway, apakah Aceh pernah mengajukan diri mendapat giliran menjadi “ibu kota kebudayaan Islam dunia”. Pemilihan itu dilakukan setahun sekali.
Mungkin Martapura, di Kalsel, juga bisa mencalonkan diri. Atau jangan-jangan Martapura sudah berubah sejak rezeki batubara meluberkan kegilaan pada harta ke seluruh Kalsel.
Tarim memang punya kebanggaaan masa lalu. Dan itu selalu didengungkan. Misalnya di masa setelah Nabi Muhammad wafat: terjadi gelombang murtad di mana-mana. Tarim, saat itu, terkenal di dunia Islam sebagai yang nol gelombang murtadnya.
Sampai-sampai, kata orang Tarim, khalifah pertama setelah Nabi, Abubakar as-Shiddiq, secara khusus memanjatkan tiga doa untuk Tarim: punya air yang melimpah, jadi gudangnya ulama dan Tarim tidak akan hancur sampai kiamat seperti halnya Makkah dan Madinah.







