IKNPOS.ID – Inflasi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), pada Januari 2026 masih stabil atau lebih terkendali pada awal tahun. Hal itu disampaikan Bank Indonesia (BI).
“Pengendalian inflasi dilakukan melalui sinergi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) untuk menjaga daya beli masyarakat,” ujar Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Kalimantan Timur, Robi Ariadi, Kamis, 5 Februari 2026.
Dalam upaya menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia (BI) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Pemerintah Kabupaten PPU melakukan berbagai langkah, mulai dari pemantauan harga, pelaksanaan operasi pasar, penguatan kerja sama antar daerah, hingga mendorong pemanfaatan lahan pekarangan untuk penanaman kebutuhan pangan.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2026, inflasi Kabupaten PPU Utara tercatat sebesar 0,05 persen secara bulanan dan 2,75 persen secara tahunan. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional maupun Provinsi Kalimantan Timur.
“Inflasi itu dinilai stabil masih terkendali, dan dijaga tetap berada dalam sasaran nasional 2,5 persen plus minus 1 persen,” tambahnya.
Inflasi di wilayah Serambi Ibu Kota Nusantara (IKN) pada Januari 2026 terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Sejumlah komoditas yang menjadi penyumbang inflasi tertinggi antara lain ikan tongkol, tomat, daging ayam ras, kayu balokan, serta emas perhiasan.
Robi menyebutkan, kenaikan harga ikan tongkol dipengaruhi oleh kondisi gelombang laut yang tinggi sehingga membatasi aktivitas melaut nelayan. Sementara itu, harga tomat meningkat akibat terbatasnya pasokan dari daerah sentra produksi di Jawa dan Sulawesi.
Sementara itu, deflasi di Kabupaten PPU berasal dari kelompok transportasi, lanjutnya, serta sejumlah komoditas utama seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, buncis, dan jagung manis yang mengalami penurunan harga seiring meningkatnya pasokan.
“Adapun sejumlah risiko inflasi ke depan meliputi puncak musim hujan, potensi gelombang laut tinggi, risiko banjir di beberapa wilayah sentra produksi, serta masuknya periode Ramadan dan Idul Fitri 2026 yang berpotensi mendorong peningkatan permintaan masyarakat,” lanjut Robi.







