IKNPOS.ID – Operasi pencarian dan pertolongan terhadap korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Puncak Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, memasuki fase krusial. Tim SAR gabungan kini harus bekerja dengan tingkat kehati-hatian tinggi mengingat lokasi penemuan puing dan korban berada di area yang sangat berbahaya.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, mengungkapkan bahwa titik jatuhnya pesawat berada di medan yang sangat ekstrem. Berdasarkan pengamatan awal, bangkai pesawat dan para korban berada di tebing curam dengan kedalaman sekitar 500 meter dari puncak gunung.
“Lokasi kejadian berupa tebing curam dengan prakiraan posisi korban berada di kedalaman sekitar 500 meter dari puncak. Kondisi ini sangat ekstrem sehingga menuntut kehati-hatian ekstra dan teknik evakuasi khusus dari tim di lapangan,” tegas Mohammad Syafii saat memberikan keterangan pers.
Berpacu dengan Waktu dan Cuaca
Meskipun tim berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat dalam waktu kurang dari 24 jam sejak laporan hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026), proses pengangkatan korban tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Teknik high angle rescue atau evakuasi di medan vertikal menjadi satu-satunya cara untuk menjangkau titik 500 meter tersebut.
Hingga saat ini, tim SAR telah menemukan dua korban, masing-masing satu laki-laki pada Minggu (18/1) dan satu perempuan pada Senin (19/1). Namun, tantangan berupa kabut tebal dan perubahan cuaca yang sangat cepat di Puncak Bulusaraung seringkali memaksa tim untuk menghentikan sementara proses evakuasi demi keselamatan personel.
Fokus Jalur Udara dan Kendala Kabut
Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menambahkan bahwa Basarnas sebenarnya memprioritaskan evakuasi melalui jalur udara menggunakan helikopter untuk mempercepat proses pemindahan korban. Namun, rencana tersebut masih terkendala oleh jarak pandang yang sangat terbatas akibat kabut pekat yang terus menyelimuti area puncak.
“Evakuasi melalui udara tetap menjadi prioritas kami guna memaksimalkan golden time. Namun, kami tidak bisa memaksakan jika kondisi alam tidak memungkinkan. Keamanan tim dan keselamatan dalam proses evakuasi adalah hal yang paling utama,” imbuhnya.







