IKNPOS.ID – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) meminta PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) memberi perhatian lebih terhadap dampak lingkungan dan sosial di sekitar kilang penampungan minyak mentah di Kelurahan Lawe-Lawe. Fasilitas tersebut merupakan bagian penting dari proyek strategis nasional Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang telah diresmikan Presiden Prabowo Subianto.
Bupati Penajam Paser Utara Mudyat Noor menegaskan, keberadaan industri migas berskala besar tidak hanya membawa manfaat ekonomi, tetapi juga konsekuensi nyata terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar.
“Salah satu fasilitas penunjang RDMP Balikpapan berada di wilayah Kecamatan Penajam. Aktivitas industri sebesar ini tentu berdampak langsung terhadap lingkungan dan kawasan sekitar,” ujar Mudyat, Sabtu.
Banjir hingga Air Bersih Jadi Sorotan
Pemkab PPU mendorong PT KPI untuk terlibat aktif mencari solusi cepat atas persoalan kewilayahan yang muncul, mulai dari penanganan banjir di kawasan Lawe-Lawe, perbaikan akses layanan publik, hingga ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Bupati Mudyat mengungkapkan, sumber utama bahan baku air bersih untuk Kabupaten Penajam Paser Utara berada di Kelurahan Lawe-Lawe, tepatnya di dalam kawasan otoritas PT Pertamina (Persero). Kondisi ini membuat kerja sama antara pemerintah daerah dan pengelola kilang menjadi krusial.
“Kami berharap Pertamina bisa membantu memastikan pasokan air baku bagi Perumda Air Minum Danum Taka agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terjaga,” jelasnya.
CSR Diminta Lebih Tepat Sasaran
Selain penanganan dampak lingkungan, Pemkab PPU juga mendorong optimalisasi dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) agar lebih menyentuh kebutuhan dasar masyarakat secara berkelanjutan.
Program CSR diharapkan difokuskan pada sektor kesehatan, pendidikan, infrastruktur dasar, serta pelestarian lingkungan, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Dampak Kian Besar
Seiring beroperasinya RDMP Balikpapan, kapasitas kilang penampungan minyak mentah di Kabupaten Penajam Paser Utara meningkat dari 5 juta barel menjadi 7,5 juta barel. Hal ini menjadikan wilayah tersebut sebagai salah satu pusat pengelolaan minyak terbesar di Indonesia.






