Home Lifestyle Ekonomi Balikpapan ‘Mendingin’! Simak Dampak Ngeri Deflasi 2026 Bagi Dompet Anda
LifestyleNews

Ekonomi Balikpapan ‘Mendingin’! Simak Dampak Ngeri Deflasi 2026 Bagi Dompet Anda

Balikpapan waspada deflasi

Share
Share

​”Deflasi ini adalah pedang bermata dua. Kita harus jeli melihat apakah ini murni karena efisiensi distribusi pasokan atau justru tanda-tanda masyarakat mulai menahan belanja secara ekstrem,” ungkap seorang analis ekonomi regional.

Di Balikpapan, deflasi terdalam bersumber dari Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau dengan andil negatif 0,10%. Lima komoditas penekan utama yaitu daging ayam ras, ikan layang, cabai rawit, emas perhiasan, dan bahan bakar rumah tangga mengalami penurunan harga.

 

Peningkatan pasokan ayam dari Jawa dan lokal, hasil tangkapan nelayan yang membaik seiring cuaca kondusif, serta masuknya periode panen cabai di Jawa dan Sulawesi menjadi faktor pendorong. Kendati demikian, Kelompok Transportasi justru menyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,13% akibat penyesuaian tarif penerbangan buntut dari kenaikan harga avtur.

 

Sejumlah komoditas seperti semangka, tomat, kangkung, dan minyak goreng mengalami kenaikan harga, sebagian dipengaruhi tingginya frekuensi hujan yang mengganggu produksi dan sebagian lagi akibat keterlambatan pengiriman dari produsen di Jawa. Sementara itu di PPU, inflasi 0,33% terutama didorong Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil 0,13%. Dia menjelaskan bahwa tomat, semangka, bakso siap santap, bawang merah, dan minyak goreng menjadi penyumbang utama. Intensitas hujan yang masih tinggi di PPU dan daerah sentra produksi membatasi pasokan sayuran, sedangkan antisipasi menjelang Iduladha mendorong kenaikan harga daging sapi dan turunannya.

 

“Koordinasi intensif dengan pengepul ikan laut 2 kali per bulan di Kecamatan Penajam dan Waru terus kami lakukan untuk menjaga stabilitas harga komoditas perikanan,” tutur dia.

 

Ke depan, sejumlah risiko masih mengintai. Masuknya musim kemarau mulai Juli 2026 di Kabupaten Paser, berlanjut Agustus di PPU dan Balikpapan, berpotensi memengaruhi produksi pertanian. Pulau Jawa sebagai sentra utama pasokan bahkan lebih dini memasuki kemarau sejak awal kuartal II/2026. Lebih lanjut, Robi memaparkan Bank Indonesia Balikpapan bersama TPID Balikpapan, PPU, dan Paser telah menempuh berbagai langkah antisipatif sepanjang April 2026, seperti pelaksanaan rapat koordinasi teknis pemantauan harga (Early Warning System), kerja sama antardaerah distribusi MinyaKita antara asosiasi pedagang pasar PPU dengan Perusda Manuntung Sukses Balikpapan, dan gerakan menanam cabai-padi-jagung dua kali setahun. Kemudian, operasi pasar di 4 kecamatan PPU, serta penyebaran 3.478 bibit cabai-terong-tomat di 15 titik Balikpapan.

Share
Related Articles
News

Pengangguran di Kalteng Turun Tipis per Februari 2026, BPS Catat 51.710 Orang

IKNPOS.ID - Jumlah pengangguran di Kalimantan Tengah (Kalteng) mengalami penurunan tipis pada...