Namun, tantangan tetap ada, terutama ketika siswa beragama Buddha tersebar akibat sistem zonasi, yang menuntutnya untuk ekstra lincah dalam menjangkau setiap anak didik.
“Semoga ke depan pendidikan semakin inklusif dan semua peserta didik mendapatkan layanan yang adil, tanpa terkecuali,” harap Puji.
Sementara itu, dari Desa Sesua, Malinau Barat, Anselmus Helaq menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi.
Selama kurang lebih 21 tahun mengajar sebagai guru agama Katolik, ia terus mencari cara agar nilai-nilai iman dapat dipahami dan dihayati oleh siswa-siswinya melalui pendekatan yang kontekstual dengan budaya lokal.
“Saya berharap pendidikan kita terus maju dengan tetap menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual,” ungkap Anselmus.