Bangsa yang maju adalah yang produktivitasnya tinggi.
Bahwa atasan pun di saat WFH harus masak dan cuci baju itu bisa dilakukan sebelum jam kerja. Saya, kalau di luar negeri, juga cuci baju sendiri. Biasanya sambil mandi. Agar tidak berat yang dicuci hanya tiga potong. Sederhana.
Apalagi sekarang di Tiongkok banyak hotel menyediakan mesin cuci. Bahkan ada yang mesinnya ditaruh di pojok ruang olahraga: sebelum olahraga masukkan baju kotor ke mesin, selesai olahraga cucian selesai. Cucian itu berat kalau baju kotornya ditumpuk sampai segunung.
“Menuliskan yang akan dikerjakan, mengerjakan yang ditulis”.
Maka pekerjaan semua pegawai adalah menulis: Kamis sore menulis apa yang akan dikerjakan di hari WFH-Jumat, Jumat sore menulis apa yang sudah dikerjakan di hari itu.
Di era serba software sekarang ”manajemen produktivitas” seperti itu bisa lebih sederhana lagi. Atasan dan semua bawahan menggunakan aplikasi yang sama: upload tulisan dilakukan di aplikasi yang sama. Atasan bisa melihat sendiri di aplikasi. Bahkan atasan yang levelnya lebih tinggi bisa mengakses aplikasi itu.
Atasan dan bawahan bisa baca semua yang ditulis dan dikerjakan di hari WFH. Atasan yang lebih tinggi juga bisa menilai atasan yang menjadi bawahannya.
Atasannya atasan juga bisa menilai bawahannya bawahan. Dengan demikian bisa diketahui apakah di level yang lebih bawah ada bibit-bibit unggul untuk dipromosikan kelak.
Tapi itu bisa berjalan kalau meritokrasi dilaksanakan di semua level.
Budaya menulis yang akan dikerjakan dan mengerjakan yang telah ditulis memang hanya terjadi di negara maju atau di negara yang ingin maju.
Di negara tertentu sudah banyak juga yang mencoba menulis apa yang akan dikerjakan. Tapi yang sudah ditulis itu besoknya tidak dikerjakan. Alasannya banyak. Salah satunya karena muncul tugas dadakan dari atasan.
Maka atasan harus tahu –dari aplikasi– kepada siapa tugas dadakan itu diberikan. Harusnya diberikan kepada bawahan yang rencana kerjanya kalah penting dengan tugas dadakan itu.
Masalahnya: banyak tugas dadakan yang sebenarnya sama sekali tidak penting. Misalnya mewakili atasan untuk membacakan sambutan tertulis.