Catatan Dahlan Iskan

WFH Sarengat

Share
WFH Sarengat
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menegaskan bahwa kebijakan Work From Home (WFH) tidak wajib diterapkan setiap hari Jumat, khususnya bagi karyawan swasta-Dok. Kemnaker -
Share

Oleh: Dahlan Iskan

Rasanya Anda sudah dapat kiriman humor tentang atasan yang menelepon stafnya di hari WFH-baru seperti berikut ini:

Atasan: “Tadi saya telepon kamu, yang terima istrimu. Katanya kamu lagi masak. Kenapa nggak segera telepon balik?”

Staf: “Sudah saya telepon balik Pak… Yang terima istri Bapak. Katanya Bapak lagi nyuci…”.

Rasanya itulah humor terbaik soal work from home di hari Jumat seperti hari ini. Mungkin yang menciptakannya perusuh Disway Lazareta yang sudah lama tidak kirim humor yang paling saya sukai.

Tentu atasan yang ada di humor itu jadi atasan kalau lagi di kantor. Setinggi-tinggi atasan ia hanyalah bawahan kalau sedang di rumah.

Atasan nyuci baju sangatlah baik. Bukan hanya soal emansipasi laki-laki, tapi atasan seperti itu pasti ingin mendukung penuh program menteri ESDM: hemat energi. Daripada, misalnya, di hari WFH ia mengantar istri ke pasar. Lalu pergi ke mal. Akhirnya disuruh ngantar istri yang mau arisan.

Kalau semua pegawai negeri seperti di humor itu, WFH sukses besar. Negara benar-benar bisa menghemat BBM senilai Rp 4 triliun/tahun. Asal masaknya jangan banyak-banyak –yang membuat kompor tidak mati-mati.

WFH atau WFO sebenarnya sama saja. Yang penting tetap produktif. Atasan tahu apa saja pekerjaan yang harus dilakukan anak buah sepanjang hari Jumat WFH. Apakah pekerjaan itu terlalu ringan atau terlalu berat. Kalau terlalu ringan bisa ditambah. Kalau terlalu berat –dan selalu berhasil diselesaikan– nasib dan karir anak buah seperti itu harus diperhatikan.

WFH atau tidak yang penting prinsip manajemen berjalan dengan baik. Ajaran manajemen yang baik itu sederhana: menuliskan yang akan dikerjakan dan mengerjakan yang sudah ditulis.

Berarti tiap hari Kamis sore, sebelum meninggalkan kantor bawahan sudah harus menulis: Jumat besok, di rumah, akan mengerjakan apa saja.

Tulisan itu diserahkan ke atasan. Atasan membaca dan menilai: rencana kerja itu sudah membuat bawahan produktif atau belum. Kalau belum, harus ditambah. Intinya: produktivitas.

Share
Related Articles
Kejiwaan Iran
Catatan Dahlan Iskan

Kejiwaan Iran

Oleh: Dahlan Iskan Presiden Trump tidak marah ketika ahli psikologi mengatakan kejiwaanya...

Catatan Dahlan Iskan

Utang Tuhan

Oleh: Dahlan Iskan Iran itu bapaknya tauhid --tuhan itu esa. Yakni ketika...

Catatan Dahlan Iskan

Zaman Batu

Oleh: Dahlan Iskan Hari ini adalah deadline yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat...

AWS, Microsoft, Google, dan Oracle adalah milik Amerika.
Catatan Dahlan Iskan

Kompor Oracle

Catatan Dahlan Iskan