Mulyono menjelaskan bahwa bencana hidrometeorologi adalah bencana alam yang dipicu oleh kondisi cuaca dan iklim ekstrem, seperti curah hujan tinggi atau angin kencang. Jenis bencana ini meliputi banjir, tanah longsor, puting beliung dan kekeringan.
Bencana hidrometeorologi tersebut merupakan dampak dari fase perubahan musim. Pada masa transisi ini, kondisi atmosfer cenderung menjadi tidak stabil sehingga memicu berbagai efek cuaca yang bisa merugikan masyarakat.
“Bencana ini biasanya terjadi pada perubahan musim itu. Jadi ada beberapa fasenya yang bisa menyebabkan beberapa efek berupa bencana hidrometeorologi, karena potensi kejadian ekstrem itu lebih sering terjadi,” ujarnya.
Selain potensi bencana hidrometeorologi selama pancaroba, BMKG Kotim juga merilis prakiraan awal musim kemarau 2026. Untuk wilayah Kotim bagian utara, awal kemarau diprediksi mulai pada 1 Juni, kecuali untuk Kecamatan Teluk Sampit dan Pulau Hanaut.