Oleh: Dahlan Iskan
Kian simpang siur. Pun setelah seluruh dunia ikut menderita masih juga belum jelas: akan di bawa ke mana perang lawan Iran itu. Tidak ada ucapan satu tokoh pun di Amerika Serikat yang bisa dipegang.
Yang paling “kejam” adalah ucapan seorang menteri yang Anda sudah duga siapa namanya: Pete Hegseth. Ia menteri pertahanan. Presiden Donald Trump pernah mengubah sebutan menteri pertahanan itu dengan ”menteri perang”. Secretary of War.
Mungkin itu setelah Trump melihat watak orang yang akan ia angkat sebagai menteri waktu itu: selalu ingin perang.
Itu bukan hanya bisa disimak dari ucapan-ucapannya, tapi juga dari tato yang banyak terlihat di lengan dan dadanya.
Hegseth ingin serangan ke Iran justru ditingkatkan. Ia menilai Iran sudah sangat lemah. “Mereka sekarang sudah lari ke lorong-lorong bawah tanah. Kita bisa temukan semua tempat persembunyian itu. Mereka akan terjebak di dalamnya. Tanpa makanan. Tanpa minuman. Bahkan tanpa oksigen,” katanya dua hari lalu.
Menurut Hegseth, salah satu terowongan itu sudah ditemukan. Sudah dibom. Lorong bawah tanah itu sudah tertutup ujung-ujungnya. Tentara yang ada di dalamnya terkubur tanpa oksigen.
“Perang akan berakhir lima minggu lagi,” katanya.
Trump sendiri seperti memberi peluang untuk perundingan. Lewat Pakistan. Tapi Iran memang menolak segala macam perundingan.
Iran menganggap Trump sudah tidak bisa dipercaya. Setiap kali perundingan, ketika tahapnya sudah mendekati kesepakatan, serangan militer dilakukan. Seolah perundingan itu hanya tambahan waktu untuk mematangkan rencana serangan.
Kalau pun ada sedikit sinyal positif dari Iran itu menyangkut siapa yang menurut Iran masih layak diajak berunding: Wakil Presiden J.D. Vence. Bukan Trump.
Mungkin Iran bisa membaca Vence-lah yang akan terpilih sebagai presiden Amerika pengganti Trump. Bukan calon kuat satunya: Menlu Marco Rubio.
Pun kali ini. Ketika proses perundingan mulai dilakukan Amerika justru mendatangkan tambahan pasukan besar-besaran. Ancaman untuk penghancuran infrastruktur, kilang minyak, dan instalasi penjernihan air justru ditingkatkan. Tidak ada yang bisa dipegang ke mana arah perang ini. Bisa jadi taktiknya memang begitu: mengacaukan perencanaan lawan.