“Pada umumnya sebenarnya anggaran tersebut sudah efisien. Tapi kita minta tadi masih ada yang bisa menggunakan bahan yang murah seperti keramik, tidak perlu spek komersial,” demikian Andi Harun.
Anggaran ini difokuskan sepenuhnya untuk merehabilitasi 8 ruang kelas yang hangus terbakar agar para siswa dapat segera kembali belajar dengan nyaman dan aman.
Langkah cepat ini merupakan bagian dari upaya tanggap darurat infrastruktur pendidikan. Tidak hanya sekadar membangun kembali dinding yang roboh, alokasi dana miliaran tersebut juga mencakup pembaruan instalasi listrik standar keamanan tinggi dan pengadaan sarana belajar yang lebih modern.
Pemkot menargetkan pengerjaan fisik dapat rampung dalam waktu dekat guna meminimalisir gangguan pada kalender akademik siswa.
Pemerintah daerah menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk menunda urusan pendidikan, terutama yang berkaitan dengan fasilitas vital bagi generasi muda.
“Kami tidak ingin anak-anak kita kehilangan semangat belajar hanya karena kendala fasilitas pasca-musibah. Anggaran Rp2,1 miliar ini adalah investasi masa depan. Kami pastikan pembangunan kembali 8 kelas ini dilakukan dengan standar kualitas terbaik, tahan api, dan layak untuk proses belajar mengajar yang lebih baik dari sebelumnya,” tegas perwakilan Pemkot Samarinda.
Selain perbaikan fisik, proyek ini juga menjadi momentum bagi Dinas Pendidikan setempat untuk mengevaluasi sistem proteksi kebakaran di seluruh sekolah di Samarinda.
Dengan transparansi anggaran yang dikawal ketat, masyarakat diharapkan dapat turut serta mengawasi jalannya proyek ini agar selesai tepat waktu dan tepat sasaran, sehingga SMPN tersebut kembali berdiri kokoh sebagai kawah candradimuka bagi para pelajar.