IKNPOST.ID – Jika Pulau Jawa punya Nila dan Sumatra punya Patin, maka tanah Borneo memiliki primadona tak tertandingi, Ikan Papuyu. Meski fisiknya kecil dan bersisik keras, ikan yang juga dikenal sebagai ikan Betok (Anabas testudineus) ini memiliki reputasi besar, baik di ekosistem rawa maupun di meja makan.
Mari kita ulas sisi menariknya.
Punya “Dua Nyawa”, Bisa Bernapas di Darat!
Sisi paling ajaib dari Papuyu yakni pada ketangguhannya. Secara biologis, ia adalah ikan amfibi fakultatif. Selain memiliki insang, Papuyu dibekali organ tambahan bernama Labirin (Labyrinth).
Organ ini memungkinkan Papuyu mengambil oksigen langsung dari udara. Tak heran jika saat musim kemarau, warga sering melihat ikan ini “berjalan” atau merayap di daratan menggunakan sirip dadanya yang kuat untuk mencari sumber air baru. Ketangguhan inilah yang membuatnya tetap segar bugar meski dijual di pasar dengan kondisi nyaris tanpa air.
Mengapa Menjadi Ikan Khas Kalimantan?
Kondisi geografis Kalimantan yang didominasi lahan basah dan rawa gambut adalah surga bagi Papuyu. Melimpahnya habitat alami menjadikannya bagian tak terpisahkan dari budaya memancing masyarakat Banjar dan Dayak. Bagi warga lokal, Papuyu bukan sekadar ikan, melainkan identitas kuliner yang melambangkan kekayaan alam Borneo.
Jadi Identitas Kuliner Kalimantan
Jangan tertipu ukurannya! Daging Papuyu dikenal sangat gurih, manis, dan berlemak. Namun, penikmatnya harus waspada karena durinya cukup kuat. Beberapa olahan legendarisnya antara lain:
• Papuyu Bakar
Menu wajib yang disantap bersama sambal acan (terasi) dan perasan limau kuit.
• Gangan Asam Papuyu
Sayur asam khas Banjar yang lemak ikannya lumer di lidah.
• Wadi Papuyu
Produk fermentasi tradisional menggunakan garam dan sangrai beras (sammu), memberikan cita rasa asam-asin yang unik.
Harga Bisa Tembus Rp150 Ribu per Kilogram
Di pasaran, harga Papuyu segar bisa mencapai Rp60.000 hingga Rp120.000 per kg, bahkan untuk ukuran besar (Grade A/Babon) harganya bisa menyentuh Rp150.000 per kg. Harga ini jauh melampaui ikan nila atau mas.