“Ruang kelas mungkin bisa dibangun kembali dalam hitungan bulan, namun memori dan kenyamanan belajar para siswa yang hilang di balik api adalah luka yang membutuhkan waktu lama untuk sembuh.”
Nasib Siswa di Tengah Puing Bangunan
Pasca kebakaran, pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Kota Samarinda kini dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan? Dengan hilangnya delapan ruang kelas, skenario pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau sistem pembagian sif kelas (double shift) kini tengah dipertimbangkan secara matang.
Kekhawatiran mendalam juga dirasakan para orang tua siswa, terutama mereka yang anaknya akan menghadapi ujian dalam waktu dekat. Pemerintah kota pun didesak untuk segera mengambil langkah taktis dalam proses rehabilitasi gedung agar hak pendidikan ratusan siswa SMPN 2 Samarinda tidak terabaikan terlalu lama.
Kini, SMPN 2 Samarinda hanya menyisakan tembok-tembok hitam yang membisu. Musibah ini menjadi pengingat keras bagi seluruh institusi pendidikan untuk memperketat standar keamanan kelistrikan dan mitigasi bencana di lingkungan sekolah demi keselamatan nyawa dan aset masa depan bangsa.