Oleh: Dahlan Iskan
Semasih mahasiswa pun ia sudah menjuarai lomba robot tingkat nasional. Setelah kini usianya 60 tahun, Kang Dasep Ahmadi masih bisa dapat hak paten tingkat internasional. Di antara dua usia itu ia tidak berhenti berkarya. Ada yang berhasil, ada yang membuatnya menderita: 10 tahun hilang kebebasannya.
Salah satu keberhasilannya adalah: menciptakan mesin CNC (computer numerical control). Itu adalah mesin yang jadi tulang punggung industri. CNC bisa memotong, melubangi, dan membentuk baja dengan presisi yang tinggi. Seberapa banyak pun baja yang dipotong hasilnya sama presisinya.
Kang Dasep sudah memproduksi mesin ciptaannya itu. Sudah terjual banyak. Sampai hari ini belum ada teknologi yang menggantikan CNC. Memang mulai ada 3D Printing tapi belum bisa menggantikan CNC.

Keberhasilan lain: membuat mobil listrik –ketika masih banyak yang tidak percaya mobil listrik akan ada.
Itu tahun 2013. Kang Dasep berpikir dan bekerja amat keras. Siang dan malam. Ia tahu: masa depan Indonesia –juga dunia– adalah mobil listrik.
Maka Kang Dasep ke Tiongkok. Ia mendengar BYD mulai uji coba membuat mobil listrik. Ia ke BYD. Ia coba mengemudikan mobil listrik hasil uji coba BYD.
Setahun sebelumnya saya juga ke Tiongkok. Juga diminta mencoba mengemudikan mobil listrik hasil uji coba BYD itu. Masih sangat sederhana. Apalagi kalau bandingannya mobil bensin buatan Jepang. Hasil uji coba itu seperti belum layak dijual. Saya tidak menyangka kalau kelak, di tahun 2025, mobil listrik BYD sangat cantiknya.
Di tahun 2013 itu pula lahirlah mobil listrik merek Ahmadi. Tentu masih sangat sederhana. Anda masih ingat warnanya: hijau.

Kang Dasep dengan mobil listrik ciptaannya, Ahmadi.–
Namanya juga uji coba. Uji coba generasi pertama pula. Masih banyak kekurangannya.
Saya pun dapat kesempatan mencoba mengemudikannya. Terlalu berspekulasi. Berangkat: dari bengkel Ahmadi di Depok. Tujuan akhir: gedung BPPT di Jalan Thamrin Jakarta.