IKNpos.id – Menyongsong statusnya sebagai daerah penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN), Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kini tengah mematangkan rencana besar.
Tidak tanggung-tanggung, Pemerintah Kabupaten PPU mengestimasikan kebutuhan anggaran sebesar Rp200 miliar untuk melakukan penataan total terhadap Pelabuhan Penajam. Langkah ini diambil guna memastikan gerbang laut utama tersebut mampu mengimbangi kemegahan dan ritme cepat pembangunan ibu kota baru.
“Penataan pelabuhan butuh proses, saat ini sudah berjalan mulai tahap awal,” ujar Bupati Penajam Paser Utara Mudyat Noor ketika ditanya mengenai rencana revitalisasi pelabuhan penyeberangan kapal cepat (speedboat) dan kapal kayu (klotok) di Penajam, Jumat.
Penataan ini bukan sekadar urusan estetika, melainkan kebutuhan mendesak untuk memperlancar arus logistik dan mobilisasi orang yang diprediksi akan meledak dalam waktu dekat.
Fokus utama proyek ini meliputi perluasan area dermaga, modernisasi fasilitas terminal penumpang, hingga penataan kawasan komersial di sekitar pelabuhan agar lebih tertib dan bernilai ekonomi tinggi.
Keterbatasan APBD membuat Pemkab PPU kini aktif menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat dan pihak swasta untuk memenuhi kebutuhan pendanaan tersebut.
“Pelabuhan Penajam adalah wajah pertama yang dilihat saat memasuki wilayah PPU dari arah laut. Anggaran Rp200 miliar ini merupakan investasi strategis agar kita tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pemain utama sebagai pintu gerbang logistik dan transportasi menuju IKN,” tegas perwakilan Pemerintah Kabupaten PPU.
Diharapkan, dengan wajah baru pelabuhan yang lebih modern dan terintegrasi, pertumbuhan ekonomi di “Benuo Taka” akan melesat signifikan.
Proyek ini diproyeksikan menjadi daya tarik bagi investor luar untuk menanamkan modal di sektor jasa dan perdagangan, yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal di sekitar kawasan pelabuhan.
Kabupaten Penajam Paser Utara yang berhadapan langsung dengan Kota Balikpapan serta berdekatan dengan IKN, sebagai daerah penyangga ibu kota negara baru Indonesia, menurut dia, perlu menyesuaikan diri agar wajah kabupaten terlihat lebih baik.