Catatan Dahlan Iskan

Hotel Syiah

Share
Share

Delegasi Iran juga sangat serius: dipimpin ketua parlemen: Mohammad Bagher Ghalibah. Di dalamnya ada Menlu Abbas Araghchi. Yang agak ”mencurigakan”, dalam delegasi damai itu terlihat Gubernur Bank Central Iran. Saya pun bertanya-tanya untuk apa gubernur bank central ikut berunding. Rupanya Iran akan menagih utang di perundingan itu: minta agar uang Iran yang dibekukan Amerika senilai USD7 miliar dicairkan. Kalau tidak, perundingan tidak akan bisa dimulai. Itu uang Iran. Hasil perdagangan yang legal. Uang halal.

Tentu Amerika senang bahwa yang hadir dari Iran adalah Bagher Ghalibah. Amerika bersimpati pada Ghalibah. Bahkan Amerika berharap orang seperti Ghalibah yang kelak menjadi presiden Iran.

Sebaliknya Iran juga senang bahwa delegasi Amerika dipimpin Wapres JD Vance. Anda sudah tahu: Vance adalah tokoh di sekitar Trump yang paling tidak setuju serangan ke Iran. Posisinya berseberangan langsung dengan Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Sedangkan sikap Menlu Rubio dinilai plintat-plintut.

Trump pernah lebih terpikat dengan pendapat Hegseth: serang Iran sekarang juga. Pasti menang. Itu soal kecil di mata Amerika.

Setelah perang berlangsung 40 hari, Trump mengutus wapres untuk berunding dengan Iran. “Benar kamu!” mungkin begitu kata-kata Trump saat Vance pamit menuju Islamabad.

Saya sendiri harus berdamai dengan perusuh Disway –seperti di komentar kemarin: hari ini sebaiknya menulis yang ringan-ringan saja. Inilah hasilnya. Ternyata tidak mudah menulis yang ringan. Lebih mudah membahas materi perundingan yang serius. Tinggal kutip sana-sini.

Sedang untuk tulisan hari ini saya harus mengingat kunjungan saya ke Pakistan beberapa tahun lalu. Untung kejiwaan saya tidak menurun drastis tahun-tahun terakhir. Saya masih ingat waktu itu lewat di depan Hotel Serena dan saya banyak bertanya tentang siapa di balik hotel itu.

Akhirnya saya harus menulis yang Anda sudah tahu tadi: siapa pemilik hotel ini. Orang kaya itu adalah Shah Karim al-Hussaini. Gelarnya: Agha Khan IV.

Al Hussaini lahir di Swiss. Usianya 88 tahun ketika meninggal dunia tahun lalu. Ia meninggal di rumahnya di Lisbon, Portugal. Ia punya kewarganegaraan lima negara tapi punya rumah di banyak negara.

Share
Related Articles
WFH Sarengat
Catatan Dahlan Iskan

WFH Sarengat

Oleh: Dahlan Iskan Rasanya Anda sudah dapat kiriman humor tentang atasan yang...

Kejiwaan Iran
Catatan Dahlan Iskan

Kejiwaan Iran

Oleh: Dahlan Iskan Presiden Trump tidak marah ketika ahli psikologi mengatakan kejiwaanya...

Catatan Dahlan Iskan

Utang Tuhan

Oleh: Dahlan Iskan Iran itu bapaknya tauhid --tuhan itu esa. Yakni ketika...

Catatan Dahlan Iskan

Zaman Batu

Oleh: Dahlan Iskan Hari ini adalah deadline yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat...