Oleh: Dahlan Iskan
Jangan kaget: hotel mewah bintang lima yang dipakai tempat perundingan Iran-Amerika sejak kemarin itu milik konglomerat syi’ah. Namanya Anda sudah tahu: ya sudah.
Waktu lewat di depannya, di pinggiran kota Islamabad, Pakistan, saya tidak mengira itu hotel. Apalagi hotel besar: punya 387 kamar. Bangunannya hanya empat lantai. Awalnya saya kira itu museum. Arsitekturnya bergaya Mughal, dikombinasi dengan gaya tradisional Pakistan: dindingnya memang pakai bata merah khas negara itu.
Itulah Hotel Serena Islamabad. Konglomerasi ini berpusat di dua negara: Swiss dan Pakistan. Jaringan hotelnya ada di lebih 20 negara –yang di Indonesia ada di Bandung.
Delegasi dari Iran masuk ke hotel Serena menjelang waktu subuh, Sabtu. Berarti mereka berangkat dari Teheran Jumat lepas tengah malam. Penerbangannya hanya sekitar 3,5 jam: pesawat khusus.
Delegasi Amerika masuk ke Serena Sabtu pagi. Agak siang. Amerika sangat serius. Delegasinya dipimpin langsung oleh Wakil Presiden JD Vance. Aneh: tidak terlihat di dalamnya Menlu Marco Rubio. Ini benar-benar aneh. Ini bisa memperkuat spekulasi: ada apa di antara dua tokoh kuat yang sama-sama didukung Presiden Donald Trump untuk nyapres dua tahun lagi.
Bahwa arsitektur Hotel Serena Islamabad sangat unik, itu mencerminkan selera konglomerat yang memiliki hotel itu. Ia lulusan Prancis, lalu kuliah lagi ke Harvard. Saking kuatnya selera arsitektur, sang konglomerat sampai-sampai ada piala arsitektur dengan menggunakan namanya. Salah satu arsitek Surabaya pernah memenangkan piala itu: almarhum Johan Silas, guru besar ITS Surabaya.
Cakupan bisnis tokoh syi’ah itu tidak hanya di hotel. Ia juga bergerak di bidang keuangan dan bank. Real estate. Lembaga pendidikan. Penerbangan. Banyak sekali. Ia sendiri memiliki jet pribadi: Bombardier. Kekayaannya, menurut Bloomberg, mencapai USD13 miliar.
Ia bukan hanya tokoh syi’ah. Ia adalah imam syi’ah –dari aliran yang berbeda dengan syi’ah di Iran. Ia imam ke-49 di sejarah aliran syi’ah tersebut. Sebagai imam, ia mempunyai gelar. Sangat terkenal. Anda pasti sudah tahu nama gelar itu. Zaman dulu aliran syi’ah ini berkembang di India –yang sekarang meliputi Pakistan dan India bagian barat. Rasanya, orang tua Zohran Mamdani, wali kota New York, adalah penganut Islam syi’ah aliran ini.