IKN.pos.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) melaporkan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang cukup signifikan pada Maret 2026, yang berdasarkan data terbaru, inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) di Kaltim menyentuh angka 3,31 persen, meningkat dari indeks harga konsumen (IHK) 107,73 menjadi 111,30.
Namun inflasi di Kaltim sebesar 3,31 persen itu masih di bawah inflasi secara nasional yang tercatat sebesar 3,48 persen (year on year/yoy)
Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, di Samarinda, Jumat, menjelaskan bahwa tren kenaikan harga secara umum ini tersebar di empat kabupaten dan kota pantauan utama.
Dari wilayah yang dipantau, Kota Samarinda menjadi penyumbang inflasi tertinggi di Kalimantan Timur dengan angka mencapai 3,92 persen (IHK 111,38). Posisi berikutnya diikuti oleh, Penajam Paser Utara (PPU sebesar 3,02 persen, Balikpapan 2,95 persen, dan Berau 2,38 persen (terendah di Kaltim).
Tekanan ekonomi di Kalimantan Timur menunjukkan sinyal merah pada penutupan kuartal pertama tahun ini. Berdasarkan data terbaru, inflasi tahunan (year-on-year) di “Bumi Etam” pada Maret 2026 menyentuh angka 3,31 persen. Lonjakan ini menjadi alarm bagi para pelaku usaha dan rumah tangga untuk segera mengatur ulang strategi finansial mereka.
Kenaikan ini didorong secara agresif oleh meroketnya harga pada kelompok komoditas pangan, jasa transportasi, serta penyediaan makanan dan minuman. Fenomena ini tidak lepas dari dinamika pasokan barang yang terhambat serta peningkatan permintaan musiman yang gagal diimbangi oleh distribusi yang lancar. Samarinda dan Balikpapan tetap menjadi motor utama pergerakan indeks harga di provinsi ini.
Menanggapi situasi ini, para pakar ekonomi menyarankan perlunya intervensi pasar yang lebih berani dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) guna meredam gejolak harga di tingkat pengecer.
“Angka 3,31 persen bukan sekadar statistik; ini adalah representasi dari menyusutnya daya beli masyarakat. Jika tidak segera dimitigasi melalui penguatan rantai pasok lokal, inflasi ini berisiko menekan pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan di pertengahan tahun nanti,” ujar seorang analis ekonomi senior regional.