Mereka menikah di Yogyakarta. Dia berangkat naik bus ke Yogyakarta. Sendirian. Orang tuanyi tidak merestui –soal perbedaan agama.
Di Yogya, Agus sudah jadi aktivis. Juga jadi asisten dosen favorit. “Yang menikahkan kami Bapak A.R. Fachruddin,” ujar Anna. Anda sudah tahu siapa A.R. Fachruddin: ketua umum Muhammadiyah saat itu. Beliaulah yang menuntun pengucapan sahadatnyi.
Mereka lantas hidup berdua di rumah kos-kosan. Mereka menutupi bolong-bolong dinding kayu rumah kos-kosan itu dengan bagor bekas spanduk.
Setahun kemudian bapak ibu Anna pindah ke luar pulau. Dinas di sana. Rumah di Malang kosong. Anna menempati rumah itu sambil meneruskan kuliah sampai S1 –tanpa bertenggang rasa dengan ayahnyi.
Setelah S-1 barulah mereka kumpul lagi. Punya anak: Citra P. Dini.
Kelak, Dini-lah yang mengajari sang ibu mengaji Quran.

Setelah tiga minggu di rumah sakit Agus merasa bosan. Minta pulang. Toh belum ditemukan penyakitnya. Ia masih harus menunggu hasil tes sumsumnya. Dari hasil tes sumsum yang pertama tidak ditemukan apa-apa. Tapi dokter ingin melakukan test yang lain –hanya saja hasilnya baru keluar dalam 10 hari.
Sampai di rumah ternyata Agus minta diantar ke makam ayahnya: Syekh Djapri Karim. Ia menangis di makam sang mursyid. Tiga hari kemudian demamnya menggutus. Masuk rumah sakit lagi. Dokter mengatakan hanya bisa memberi obat menghilangkan gejalanya saja. Sambil menunggu hasil tes sumsum tulang belakang.
Hasil tes yang ditunggu pun datang. Ditemukanlah penyakitnya: kanker darah.
Agus menerima penjelasan pengobatan selanjutnya. Ia siap menjalaninya. Tapi kemo itu baru bisa dilakukan setelah kondisi tubuh Agus membaik. Hb terus menurun. Trombosit memburuk. Angka-angkanya terus merosot meski sudah transfusi plasma darah. Ia juga sudah tidak bisa makan. Mau makan. Tapi tidak bisa menelannya.
Lima jam sebelum meninggal ia menulis sendiri kematiannya: 29 Maret 2026. Di umurnya yang 63 tahun.(Dahlan Iskan)