“Ada dua juta orang di Kairo yang pekerjaannya menjadi penunggu makam. Tidur di makam,” ujar Kang Fauzi.

Akhirnya dari hanya ingin ziarah ke satu makam menjadi ziarah ke enam makam. Termasuk ke makam orang yang membiayai pembangunan makam Imam Syafi’i. Betapa kaya orang itu. Mampu membangun makam Imam Syafi’i yang begitu megah dengan kubah yang tinggi. Ia seorang pengusaha besar di masa itu. Makamnya hampir bersebelahan dengan Imam Syafi’i.
Waktu saya ke makam itu, istri saya ternyata sudah di kampung halamannyi di Loa Kulu, Kaltim. Dia juga ke makam: makam ibu dan bapaknyi.
Waktu saya ke berbagai kabupaten di provinsi Jiangsu sekarang ini dia pun ke kabupaten Kutai lagi. (Dahlan Iskan)







