Maka harus ada biaya bunga bank dari yang 100 persen itu. Termasuk bunga saat pembangunan dan setelah pembangunan.
Biaya pembangunannya sendiri dibuat cukup untuk memberi laba untuk dibagi-bagi: kontraktor, sub kontraktor dan subnya sub kontraktor.
Kontraktor tidak mengerjakan sendiri proyeknya. Kontraktor menyerahkan bagian-bagian pekerjaan ke sub kontraktor. Berarti ada ruang laba untuk sub kontraktor.
Sub kontraktor pun masih menyerahkan pekerjaan ke pelaksana. Ada laba lagi.
Belum lagi faktor risiko. Juga sekalian dimasukkan dalam perhitungan bunga.
Pun soal pembebasan tanah. Diserahkan ke kontraktor pembebasan. Lalu ke calo. Baru ke koordinator. Semua mengandung biaya.
Dan semua semua itu dibebankan ke tarif tol. Sedang di Mesir tanah adalah tanah negara.
Di Mesir perhitungan non keuangan bisa dimasukkan ke biaya. Di Mesir dalam menghitung ROI pemerintah menghitung return yang bukan investment.
Misalnya: kalau tarif tol murah berarti kian banyak kendaraan yang tidak pakai jalan non-tol. Itu berarti biaya pemeliharaan jalan itu menurun. Dengan lancarnya jalan tol angkutan orang dan barang lancar –menurunkan inflasi.
Pokoknya yang dihitung tidak hanya ROI tapi juga RONI –return on non investment.
Dulu, waktu saya ke Piramid belum ada jalan tol jurusan Alexandria ini. Kini dengan lewat tol bisa cepat sekali ke Piramid: 30 menit. Setengah jam dari Kiro sudah bisa melihat Piramid dari jalan tol.
Tiba-tiba kang Fauzi –saudagar kum ustaz, membelokkan mobil keluar tol. Ia berkuasa penuh. Ia yang punya mobil. Ia yang mengemudikannya. Saya ikut saja.
“Biar tahu perkembangan sekitar Piramid,” ujar Kang Fauzi al Bandungi.
Lingkungan Piramid itu ternyata sudah berubah. Total. Kini sudah ada Piramid keempat. Baru selesai dibangun akhir tahun lalu. Sebenarnya itu bukan Piramid. Itu museum: Grand Egyption Museum. Memang besar sekali. Desainnya dibuat sedemikian rupa seperti abstraksi Piramid. Karena itu dijuluki Piramid Keempat.
“Kita tidak usah masuk museum. Bisa lima jam sendiri di dalamnya,” ujar Kang Fauzi.







