Catatan Dahlan Iskan

Pulang Kotor

Share
Pulang Kotor
Bersama tamu dari Tiongkok melihat PLTS terapung di Waduk Cirata.--
Share

Dalam perjalanan ke Cirata kami sibuk cari tiket Jakarta-Surabaya untuk 10 orang. Kalau bisa pukul 18.00 atau setelah itu. Kami optimis sekali. Tepat di hari pertama Lebaran penerbangan biasanya justru lengang. Lupa kalau Lebarannya mundur.

Ternyata padat. Jangankan 10 orang. Untuk satu orang pun tidak ada kursi kosong. Jangankan yang jam 18.00. Yang pukul 20.00 pun penuh. Bahkan semuanya: sejak pagi.

Maka kami putuskan dari Cirata ke Cirebon. Jalan darat. Saya hubungi teman-teman di Cirebon: carikan mobil untuk 10 orang ke Surabaya. Mobil yang dari Jakarta hanya antar sampai Cirebon. Biar mereka bisa kembali ke Jakarta.

Kami pun janjian di rest area 207. Pindah mobil. Pindah bagasi. Pindah suasana kebatinan: siap menderita di jalan raya. Saya minta maaf kepada bos besar mereka: harus ikut school of suffering-nya AZA.

“Dari Cirebon masih berapa jam?” tanya bos besar itu.

“Kalau saya yang mengemudi biasanya lima jam,” kata saya. “Cirebon-Semarang dua jam. Semarang-Surabaya tiga jam,” kata saya lagi. “Tapi ini kan mobil komersial. Ukurannya besar pula. Mungkin bisa tujuh jam,” tambah saya. Saya tidak berani melirik ekspresi wajahnya.

Toh mereka juga tahu: perusahaan transpor umumnya menetapkan peraturan untuk sopir mereka: tidak boleh lebih 100 km/jam.

Kami berencana berhenti satu kali: di rest area Salatiga. Saya sering menjadwalkan istirahat di situ: Bersih. Indah. Dan yang penting ada yang jual durian –di lantai atas. Pasti tamu-tamu saya lupa penderitaan. Ganti bahagia bersama durian Indonesia.

Saya harus pilih rest area yang bersih. Belakangan saya mulai sering mengeluh di banyak rest area: toiletnya sudah tidak bersih lagi. Sudah kotor. Tidak terawat. Bau.

Jangan-jangan sejak Anda merasa gembira toilet di rest area harus gratis. Sebagian Anda mungkin pilih bayar asal bersih. Daripada gratis tapi kotor. Hanya sedikit dari Anda yang berprinsip: bersih dan gratis.

Saya tidak tahu: siapa yang harus memutuskan soal toilet di rest area ini. Yang jelas saya tidak bisa lagi berbangga di depan tamu dari Tiongkok: kami boleh kalah di semua bidang tapi masih menang di kebersihan toilet. Kini di toilet rest area pun kita kalah.

Share
Related Articles
Hari Kemenangan?
Catatan Dahlan Iskan

Hari Kemenangan?

Oleh: Dahlan Iskan Tidak hanya saya yang tidak bisa kumpul keluarga di...

Catatan Dahlan Iskan

Garam Listrik

Oleh: Dahlan Iskan https://youtu.be/6gtSTkIJcec Dari pabrik alat berat terbesar di dunia, saya...

XCMG Mlilir
Catatan Dahlan Iskan

XCMG Mlilir

Oleh: Dahlan Iskan Pabrik hebat yang saya kunjungi ini dulunya hanya pembuat...

Otak Maextro
Catatan Dahlan Iskan

Otak Maextro

Oleh: Dahlan Iskan Saya naik iPhone di Xuzhou, Tiongkok. Kali pertama dalam...