Proyek Greenfield, Investasi Jumbo
Perlu dicatat, proyek perkeretaapian di Kalimantan Timur tergolong greenfield. Artinya, jaringan rel akan dibangun dari nol, bukan pengembangan dari infrastruktur lama.
Konsekuensinya, kebutuhan investasi sangat besar dan kompleks. Mulai dari pembebasan lahan, pembangunan jalur, pengadaan sarana, hingga sistem operasional modern.
Karena itu, pemerintah daerah saat ini fokus pada penguatan readiness criteria atau kriteria kesiapan proyek. Beberapa langkah strategis yang tengah disiapkan antara lain:
Penyiapan dokumen perencanaan detail
Sinkronisasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Dukungan pembebasan lahan
Kepastian tata ruang
Pemprov Kaltim juga terus berkoordinasi agar proyek ini masuk dalam prioritas nasional dan memperoleh dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Skema Pembiayaan Masih Digodok
Meski arah kebijakan sudah jelas, persoalan pembiayaan masih menjadi tantangan utama.
Sejumlah skema tengah dijajaki, termasuk peluang kerja sama dengan pihak luar negeri. Namun hingga saat ini belum ada keputusan final terkait mitra pendanaan tertentu.
Pemprov Kaltim mendukung skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) sebagai opsi realistis untuk proyek dengan nilai investasi besar.
Prinsipnya, pembiayaan harus feasible, transparan, dan tidak membebani fiskal daerah.
Dengan nilai proyek yang diperkirakan mencapai triliunan rupiah, keputusan akhir tetap berada di tangan Pemerintah Pusat.
Siapkan SDM Lokal, Lulusan Rusia Jadi Aset
Di luar aspek fisik dan pendanaan, pemerintah daerah juga menyiapkan sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung operasional kereta api di masa depan.
Talenta putra-putri Kalimantan Timur yang telah menempuh pendidikan perkeretaapian di Rusia dipandang sebagai aset strategis.
Jika nantinya terbentuk struktur pengelolaan perkeretaapian daerah, baik dalam bentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) maupun entitas pengelola lainnya, SDM lokal berkompetensi teknis akan menjadi prioritas.
Langkah ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya fokus pada konektivitas fisik, tetapi juga peningkatan kapasitas manusia secara berkelanjutan.







