“Kenapa tarifnya pakai dua mata uang, dolar Amerika dan real Saudi?” tanya saya kepada si Kartasura.

“Kalau pakai uang Yaman tidak kuat membawanya,” ujar Salman setengah bergurau.
Saya paham. Saya pernah kaget di hari pertama di Tarim. Saya tukar uang empat lembaran real Saudi. Saya diberi uang Yaman dua gebok tebal. Saya seperti tiba-tiba jadi jutawan.
Tidak. Sejelek-jelek nilai mata uang Yaman masih lebih kuat dari rupiah. Rp 10.000 sama dengan 1000 uang Yaman. Kalau pun rupiah nanti jadi dihilangkan tiga nol di belakangnya masih sama dengan nilai uang Yaman.
Masalahnya: lembaran terbesar uang Yaman hanyalah 1.000. dengan demikian untuk membawa 200 dolar Amerika perlu membawa karung. “Untuk pembayaran besar seperti operasi atau beli sepeda motor memang pakai dolar atau real Saudi,” ujar Salman.
Saat Azan maghrib terdangar, perjalanan Tarim-Mukalla ini sampai ke titik yang mestinya indah: turun tajam dari ketinggian pegunungan. Jalannya pun berkelok mengikuti tebing gunung. Lampu-lampu di Mukalla terlihat jauh di bawah sana. Masih satu jam lagi baru tiba di kota itu.
Mobil Noah ini seperti travel di Indonesia: mengantarkan penumpang ke masing-masing alamat.
Anak Kartasura dan Berau itu turun lebih dulu. Mobil masuk-masuk gang mengantarkan mereka. Sampailah di masjid At-Taqwa di dalam kampung itu. Mereka turun di situ. Lalu mengantar dua penumpang Yaman.
Tinggallah yang terakhir saya dan Amang. Paling jauh. Ke sebuah hotel baru di dekat pelabuhan.
Tapi si Noah masih berhenti sekali lagi. Yakni untuk menurunkan barang yang diikat di atas atap. Rupanya mobil ini juga sekaligus jastip.
Mobilnya sendiri tidak mencerminkan mobil negara miskin. Mobil di Hadramaut umumnya relatif baru. Tidak banyak terlihat mobil tua yang reot.
“Saya lihat banyak mobil bagus-bagus dan baru. Berarti ekonomi sebenarnya baik kan?” tanya saya pada Amang.
“Di sini tidak ada mobil baru. Semua ini mobil bekas dari Dubai. Masih seperti baru. Murah-murah. Bukan karena ekonomi baik tapi karena sangat murah,” katanya.