Home Uncategorized Lumbung Komisi
Uncategorized

Lumbung Komisi

Share
Share

Tentu tidak mudah mendapatkan 80 ribu orang seperti Mukri untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih se-Indonesia. Makanya Presiden Prabowo memutuskan pakai jalan lain: top down (lihat Disway 1 Maret 2026: Petir Agrinas).

Sebagai tamatan PGA, awalnya Mukri jadi guru miskin di Depag, Mojokerto. Untuk ke sekolah pun tidak punya sepeda. Padahal rumahnya 14 Km dari kota.

Maka Mukri “ngenger” tinggal di rumah kepala sekolah. Selain mengajar ia mengerjakan apa saja yang ditugaskan bapak asuhnya. Termasuk pekerjaan koperasi pegawai yang kala itu diurus sang kepsek.

Lama-lama kepala sekolahnya memercayakan pengurusan koperasi sepenuhnya kepada Mukri. Meski namanya koperasi simpan pinjam, tapi lebih banyak yang meminjam daripada yang menyimpan. Uang yang bisa diputar tidak mencukupi untuk banyaknya peminjam.

Mukri cari akal: ia perbanyak jenis simpanan. Ada simpanan hari raya. Simpanan hari tua. Simpanan untuk anak masuk sekolah. Simpanan untuk haji. Lama-lama dana yang bisa diputar kian banyak. Tapi Mukri tetap konservatif.

“Dalam soal uang saya dinilai keras dan kejam,” ujar Mukri. “Sampai ada yang bilang kalau saya ini diibaratkan menggenggam air tidak akan ada air yang bisa menetes,” ujarnya.

Permintaan pinjaman dari atasannya pun pernah ia tolak –kalau kredit rating sang atasan sudah tidak memenuhi syarat. Pengurus koperasi sendiri tidak bisa ambil pinjaman kalau tidak memenuhi syarat. Inilah inti sukses koperasi. Pun di Merah Putih kelak.

Tahap berikutnya, Mukri bekerja sama dengan diler sepeda motor di Mojokerto. Pegawai yang ingin kredit motor bisa lewat koperasi. Tanpa uang muka. Bunganya murah. Program ini laris sekali.

Mukri dapat komisi dari diler sepeda motor. Nilainya lima persen. Sangat besar. Tapi Mukri tidak mau mengambil haknya itu. Komisi itu ia masukkan ke “lumbung” koperasi. Tiap ada ketentuan baru di bidang seragam pegawai, Mukri memberikan seragam baru kepada pegawai: gratis. Uangnya diambilkan dari “lumbung komisi” tadi.

Nama Mukri kian harum. Koperasi kian besar. Tapi kekerasan dan kekejaman di bidang keuangan tidak pernah kendor. Pun ketika Mukri sudah pensiun, ia tidak boleh pensiun dari koperasi.

Share
Related Articles
Daftar Keinginan
Uncategorized

Daftar Keinginan

Oleh: Dahlan Iskan Setelah 25 hari IsAm-Iran siapa yang menang? Setidaknya untuk...

IKN Siap Disulap Jadi 'Cognitive City' Pertama di Dunia
Uncategorized

IKN Gandeng Kalimantan Utara, Sinergi Baru Dongkrak Ekonomi dan Konektivitas Wilayah

IKNPOS.ID - Ibu Kota Nusantara (IKN) terus memperkuat kerja sama strategis dengan...

KIPI Maloy harus direvitalisasi
Uncategorized

Pemprov Kaltim Siapkan Rp10,5 Miliar untuk Tim Ahli Gubernur 2026, Ini Rincian Honor hingga Perjalanan Dinas

IKNPOS.ID - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) menyiapkan anggaran sebesar Rp10,5...

Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto. Foto: Dok/Puspen TNI
Uncategorized

Panglima TNI Sebut Status Siaga 1 untuk Uji Kesiapsiagaan Prajurit dan Alutsista

Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Agus Subiyanto menegaskan bahwa instruksi status Siaga...