Rongga itu letaknya di perut bumi: di kedalaman 1.500 meter. Besarnya rongga lebih dari 1 km2. Anda sudah tahu teorinya: rongga yang terbentuk di dalam tambang garam itu kedap udara. Dinding-dinding rongga itu masih berupa garam. Pun langit-langitnya. Udara tidak bisa bocor.
Mulut tambang pun dimasuki pipa raksasa. Udara dimasukkan ke rongga tambang. Dipadatkan.
Bagaimana cara memasukkan udara ke rongga tambang yang begitu besar? Tentu bukan dengan cara gotong-royong 1,4 miliar penduduk Tiongkok ramai-ramai meniupkan udara ke dalamnya. Ini pakai blower besar. Lalu pakai kompresor raksasa.
Untuk itu diperlukan tenaga listrik. Kelebihan listrik di siang hari dipakai untuk meniupkan udara dan memadatkannya.
Petang hari –sampai sebelum tengah malam– penutup rongga itu dibuka: udara pun lari keluar dengan kencangnya. Kecepatan udara itulah yang ditangkap turbin. Turbin berputar –memutar generator. Jadilah listrik.
Yang saya lihat itu turbinnya satu: 600 MW. Besar sekali. Di kota Huai An banyak sekali rongga tambang garam. Peninggalan masa nan lalu. Kini tiba-tiba bisa jadi durian runtuh.

Saya belum mau banyak bertanya. Ini masih baru. Belum genap dua bulan. Tahun depan saya ingin ke Huai An lagi.
Lima hari ke Tiongkok saya seperti menelusuri lorong waktu yang panjang: dari monumen penulis buku di abad ke empat belas, ke zaman Zhou En Lai, sampai ke zaman Tiongkok masa kini. Bahkan ke masa depan mobil dan robotnya.
Lima hari; delapan pabrik; empat kota; empat zaman. Nikmat apa lagi yang masih engkau dustakan.(Dahlan Iskan)