IKNPOS.ID – Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional menyusul meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Langkah ini ditempuh guna mengantisipasi potensi volatilitas yang dapat memengaruhi pasar domestik.
Deputy Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menjelaskan, BI akan melakukan intervensi tegas dan konsisten melalui berbagai instrumen, termasuk Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), transaksi spot, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“Kami akan melakukan intervensi tegas melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder,” kata Destry kepada Disway dan awak media secara daring, Rabu, 4 Maret 2026.
Menurut Destry, pelemahan nilai tukar Rupiah saat ini masih terkendali dan sejalan dengan pergerakan regional. Secara month-to-date, Rupiah melemah 0,51 persen, lebih stabil dibanding mata uang regional lain. Cadangan devisa Indonesia tetap berada di level USD 154,6 miliar per akhir Januari 2026, dengan arus masuk modal asing ke pasar keuangan domestik mencapai Rp 25,7 triliun.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menegaskan kesiapsiagaannya menghadapi potensi gejolak pasar akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari menyatakan, pihaknya terus memantau pergerakan pasar serta berkoordinasi dengan Self Regulatory Organization (SRO) untuk mengambil langkah kebijakan yang diperlukan.
“Kita akan terus melanjutkan program reformasi untuk peningkatan integritas dan likuiditas di pasar,” ujarnya.
OJK juga berencana memperkuat manajemen risiko, melakukan uji stres (stress test) dengan berbagai skenario, serta melanjutkan reformasi struktural untuk memperkokoh pasar modal Indonesia. Langkah ini bertujuan memastikan pasar keuangan tetap stabil di tengah ketidakpastian global.







