IKNPOS.ID – Ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja! Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data mengejutkan yang bakal bikin dompet Anda makin tipis. Tingkat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada Januari 2026 meroket hingga 3,55 persen. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan rekor tertinggi yang belum pernah terjadi lagi sejak Mei 2023 silam!
Tertinggi Sejak 2023: Inflasi Lampaui Target Pemerintah?
Anda harus bersiap menghadapi lonjakan harga yang kian agresif. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa capaian Januari 2026 ini merupakan yang terpanas setelah sebelumnya inflasi sempat menyentuh 4,00 persen pada pertengahan 2023. Padahal, sepanjang tahun 2025, Indonesia sempat menikmati masa-masa inflasi rendah, bahkan mengalami deflasi akibat diskon tarif listrik.
Kini, kondisi berbalik 180 derajat. Angka 3,55 persen ini sudah berada di batas atas target sasaran pemerintah yang mematok 2,5 persen plus minus 1 persen. Kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,99 menjadi 109,75 menjadi bukti nyata bahwa tekanan ekonomi kian nyata terasa di akar rumput.
“Inflasi tahunan Januari 2026 sebesar 3,55 persen (yoy) merupakan inflasi yang tertinggi sejak tahun 2023, di Mei 2023 inflasinya kan 4,00 persen (yoy),” tegas Ateng Hartono di Jakarta, Senin (2/2/2026).
Tarif Listrik dan Emas Jadi Biang Kerok Utama
Mengapa harga-harga mendadak “terbang”? Jawabannya ada pada pengeluaran rumah tangga. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga menjadi motor penggerak inflasi dengan kenaikan dahsyat mencapai 11,93 persen. Sektor ini saja menyumbang andil inflasi tahunan sebesar 1,72 persen.
Komoditas spesifik yang paling menguras kantong konsumen adalah tarif listrik dengan andil 1,49 persen, disusul oleh emas perhiasan yang menyumbang 0,93 persen. Selain itu, Anda juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk kebutuhan dapur seperti ikan segar, beras, dan tarif air minum PAM yang ikut-ikutan naik.
Administered Price Melejit: Kebijakan Pemerintah Tekan Konsumen
Jika kita bedah lebih dalam, komponen harga yang diatur pemerintah (administered price) menjadi penyumbang inflasi paling brutal sebesar 9,71 persen yoy. Komoditas seperti sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret kretek tangan (SKT) juga masuk dalam daftar dominan yang menekan daya beli masyarakat.







